Sulsel

Demi Kehidupan Sehari – hari, Suami Rela Jadi Tukang Kebun Jagung Milik Orang lain Untuk Hidupi istrinya selama puluhan tahun

Kab Luwu,Bapak Tahang(70) pria paruh baya, suami dari Nursia yang tinggal di Dusun Padang Lobo Desa Padang Tujuh Kecamatan Bupon Kabupaten Luwu ini kehidupannya sangat memprihatinkan, dirinya bersama istrinya tanpa anak keturunan, tinggal di sebuah gubuk yang berukuran 4 x 6 meter, yang beratapkan seng bekas yang sudah bocor (mengumpulkan seng) dan berdinding papan yang sudah lapuk, tanpa listrik di malam hari hanya menggunakan pelita buat penerangan dan tanah yang mereka tempati juga milik orang lain.

Sejak tinggal dirinya harus rela menjadi tukang kebun jagung milik orang lain adapun hasil kebun itu dibagi sama pemilik lahan apabila ada hasil yang beliau dapatkan. Karena masih belum cukup beliau kerja sampingan membantu jualan kain cakar, di hari pasar selasa dan sabtu tepatnya di pasar noling dengan upah yang biasa beliau terima Rp.15.000, kadang di belikan ikan atau kebutuhan lainnya, bersama istrinya dirumah.

Saat di temui di kediamannya Minggu, 9/2/2020 Bapak Tahang menuturkan keluh kesah derita yang dialaminya selama ini. Sejak tinggal di tempat itu mereka tanpa listrik karena keterbatasan biaya, ia juga harus membanting tulang demi menafkahi istrinya. “Saya rela menjadi tukang kebun jagung milik orang ,serta bantu bantu orang jualan kain cakar di hari pasar, kepasar lumayan jauh karena cuman naik sepeda tua yang melewati jalan yang berbatu serta menyeberangi sungai” tuturnya

” Pernah selama dua hari saya dan istri tidak makan nasi hanya makan sayur karena beras sudah habis dan tidak punya uang buat beli beras. Saat hujan tiba saya dan istri tidak bisa tidur, air masuk dalam rumah semuanya basah, nanti hujan redah baru saya dan istri bisa tidur.” Ucap Tahang sambil meneteskan air mata.

Menjadi tukang kebun jagung, serta jualan kain cakar sudah di lakoninya sudah cukup lama.

Dijelaskannya, Bapak Tahang dan istrinya tinggal di gubuk yang sangat tidak layak huni apalagi tanpa listrik, dimalam hari hanya menggunakan pelita sebagai lampu penerangan. Demi menafkahi istrinya membanting tulang jadi tukang kebun serta jualan kain cakar.

Saat ini dirinya tidak mendapatkan raskin dari pemerintah setempat dan sekiranya ada yang bisa membantu Bapak Tahang beliau sangat berterima kasih sekali, karena Bapak Tahang dan istrinya butuh uluran tangan semua pihak.

”Kartu PKH pernah saya dapat tapi tidak pernah di fungsikan karena pertama lambat saya terima kartu tersebut dari pemerintah desa setempat, yang kedua saya tidak tau cara menggunakannya.” ucap Bapak Tahang

Untuk diketahui Bapak Tahan tinggal di Dusun Padang Lobo, Desa Padang Tujuh, Kecamatan Bupon Kabupaten Luwu Sulawesi Selatan .(dhy)

Teropong Sulsel Jaya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close