Budaya

UKM LITERASI Lontara Ziarah makam bersejarah dan kunjungan budaya di Gowa-Makassar

Iklan Artikel atas HUMAS PEMPROV SULSEL

MAKASSAR,-TEROPONGSSULSELJAYA.Com- Indonesia memiliki potensi pariwisata yang sangat besar dengan keragaman budaya dan alamnya. Dari sekian banyak destinasi wisata di Indonesia, Gowa – Makassar menjadi salah satu yang wajib dikunjungi.

Di Makassar, kita bisa mengunjungi sejumlah destinasi wisata dengan segala sejarah dan keunikannya. Bersama pengurus dan anggota UKM LITERASI Lontara yang terdiri dari angkatan Batara Guru, Sawerigading, dan I La Galigo.

Kita akan mengunjungi beberapa destinasi wisata sejarah dan budaya di Makassar. Pertama, kita mengunjungi makam Syekh Yusuf yang digelari Tuanta Salamaka ri Gowa (Tuan Guru Penyelamat dari Gowa) merupakan salah satu tokoh besar Sulawesi Selatan yang dianugerahi gelar pahlawan nasional pada 1995. Syekh Yusuf ikut berjuang melawan penjajahan Belanda di era tahun 1680-an.

Ketika Kesultanan Gowa kalah perang, Syekh Yusuf pindah ke Banten dan kembali berjuang melawan Belanda bersama Sultan Ageng Tirtayasa. Di Pulau Jawa, Syekh Yusuf juga melakukan syiar agama Islam. Namun, tahun 1682 Syekh Yusuf ditangkap dan diasingkan Belanda ke Srilanka. Di Srilanka Syekh Yusuf tetap aktif menyebarkan agama Islam. Bahkan, banyak yang berguru kepadanya, termasuk ulama-ulama besar negara tetangga. Syekh Yusuf dimakamkan di Cape Town, Afrika Selatan. Namun pada tahun 1705, jenazah Syekh Yusuf dibawa ke Gowa dan dimakamkan kembali atas permintaan Sultan Abdul Jalil.

Oleh pemerintah Afrika Selatan, Syekh Yusuf juga dianugerahi sebagai pahlawan nasional. Bekas makamnya pun dinyatakan sebagai situs warisan nasional (circle of Islam atau circle of tombs) yang dianggap sebagai tempat suci para ulama dan beberapa pemimpin spiritual Afrika Selatan yang paling berpengaruh. Setelah kegiatan ziarah usai ketua UKM LITERASI Lontara bertutur “kunjungan ke Makam syekh yusuf Al makassari, sebagai bentuk rasa syukur dan bangga terhadap perjuangan beliu khususnya di Sulawesi Selatan. Maka dengan ini saya berpesan kepada seluruh pemuda bahwa jangan pernah melupakan sejarah dan pahlawan- pahlawan yang pernah berjuang. Sebab kita merasakan nikmatnya sekarang itu karna memperjuangkan hidup mereka.

Destinasi kedua kami yakni Makam Sultan Hasanuddin yang terletak di Katangka, Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Memasuki kompleks Makam Sultan Hasanuddin, kita bisa melihat banyak pohon rindang dan beberapa makam Raja-Raja Gowa. Beruntung bagi kami bisa bertemu dengan salah satu pengelola makam Sultan Hasanuddin, kami di sambut dengan hangat dan di persilahkan untuk mengelilingi kompleks makam tersebut.
Menurut informasi yang kami dapatkan Awal mula adanya makam ini diperkirakan tahun 1600 hingga 1700-an. Yang terakhir dimakamkan di sini itu tahun 1700-an. Jadi, perkiraan tempat ini ada mulai tahun 1600-1700,”

Disini juga ada makam ayah Sultan Hasanuddin, yaitu Sultan Malikussaid. Kemudian ada ada juga makam kakek Sultan Hasanuddin, yaitu Sultan Alaudin Raja Gowa ke-14. Sultan Alaudin juga salah satu Raja Gowa yang pertama masuk Islam.
Ada juga paman dari Sultan Alaudin, yaitu Sultan Abdullah Awwalul Islam. Jadi, Sultan Alaudin dan Abdullah itu yang pertama masuk Islam.

Selanjutnya, ada juga tiga makam putra Sultan Hasanuddin, yakni Sultan Amir Hamzah (Raja Gowa ke-17), Sultan Ali (Raja Gowa ke-18), Sultan Abdul Jalil (Raja Gowa ke-19) dan Raja Gowa ke-11, yakni Taji Barani Daeng Marompa Karaeng Data’ Tu Nibatta.

Satu hal yang menarik disini ketika kami melihat Makam Sultan Hasanuddin adalah mengenai ukuran makam. Jika dilihat, makam Sultan Hasanuddin ukurannya lebih kecil dibanding yang lain.

Ternyata demikian dari informasi yang kami dapatkan Makam Sultan Hasanuddin lebih kecil daripada yang lain, karena beliau wafat setelah tidak menjadi raja lagi atau sudah turun tahta.

Hal menarik lagi yang bisa kita lihat, hampir semua makam memiliki bangunan yang unik. Makam-makam terlihat seperti bangunan timbunan batu, hal ini di karenakan struktur bangunan menganut punden berundak.

Ternyata hal ini di pengaruhi oleh kebudayaan atau struktur, serta arsitektur makam ini adalah menganut punden berundak yang masih dianut saat itu dengan paham Jawa Kuno susun timbun batu punden berundak.

Uniknya lagi, makam berbentuk punden berundak ini di bawahnya seperti lorong yang ternyata memiliki filosofi tersendiri. Menurut Sahrul, lorong tersebut dibuat karena mereka adalah seorang raja, sehingga kita harus tetap merunduk ketika berziarah.

Ini mempunyai filosofi tersendiri kenapa dibuat seperti ada ruang masuk. Dulu mereka seorang raja, di masa lalu beliau seorang pejuang, untuk melihat langsung makamnya kita harus tetap tunduk. Jadi, filosofinya penghargaan terhadap beliau masih ada sampai sekarang.

Selanjutnya, kami melihat sebuah makam yang ukuran lebih besar dari raja-raja lain yang dimakamkan di kompleks ini. Makamnya berbentuk sebuah kubah besar berwarna putih dan ternyata merupakan makam Raja Gowa ke-11.

Ternyata Makam yang terbesar itu Raja Gowa ke-11, tetapi beliau besar makamnya karena ada dua makam yang ada di dalam. Jadi, bentuk makam kubah seperti Raja Gowa ke-11 itu karena lebih dari satu ada di dalam dan berdekatan, tidak ada aspek lain.

Total makam di kompleks Makam Sultan Hasanuddin ini ada 25 makam, di antaranya delapan raja dan sisanya pengawal kerajaan. Untuk memasuki kompleks Makam Sultan Hasanuddin, pengunjung tidak dipungut biaya dan bisa mengambil foto dan berwisata religi.
Menurut Putri salah satu angkatan I La Galigo saat berkunjung ke kompleks pemakaman sultan Hasanuddin merasa sangat senang dan bangga “Alhamdulillah kita sebagai pengunjung/berziarah merasakan sangat bahagia karna tidak ada pungutan biaya, selain gratis kita juga dapat pengetahuan tentang tempat ini” ucapnya .

Selesai menggali informasi di kompleks makam raja-raja Gowa kami melanjutkan perjalanan ke makam Arung Palakka namun sayangnya kami tidak sempat masuk ke dalam karena menjelang magrib kami baru tiba di tempat ini. Akhirnya kami memutuskan untuk memanjatkan doa dan membaca surah Al Fatihah, setelah itu kami bersua foto kemudian melanjutkan perjalanan ke situs sejarah Balla Lompoa.

Balla Lompoa adalah rekonstruksi istana Kerajaan Gowa yang dibangun di bawah masa kepemimpinan Raja Gowa XXXI ; Daeng Mangngi Mangngi, dikenal dengan nama Matutu, tahun 1936 dan sekarang menjadi Museum Gowa. museum berlokasi di Jalan Sultan Hasanuddin No. 48, Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Arsitektur Balla Lompoa adalah desain rumah tradisional Bugis-Makassar. Rumah panggung dengan tiang dan tangga dengan tinggi lebih dari 2 meter menyangga teras. Sekarang bangunan yang terbuat dari kayu ulin, dipakai sebagai tempat penyimpanan barang-barang koleksi Kerajaan Gowa. Namun itu dulu saat ini Balla Lompoa hanya sebuah rumah dengan sejarah kebesarannya. Balla Lompoa kini terluka, terluka oleh keegoisan politik dan pemerintah.

Diakhir diskusi di pelataran Balla Lompoa Asrulla selaku Kabid Literasi Perpustakaan UKM LITERASI Lontara juga bertutur “Jadi kunjungan siarah kubur yang kami laksanakan ini sebagai inisiatif karena meningat bahwa 1 minggu yang lalu telah kami laksanakan kegiatan PKDL maka dari itu kami bermaksud untuk memperkuat hubungan emosional para kader baru dan memancing kader baru kami untuk lebih memperhatihan dan menghargai para pahlawan namun kami juga sebenarnya ingin menggali mengenai biografi para tupanrita kami yaitu syekh yusuf,sultan hasanuddin,dan arung palakka melalui para orang tua orang tua yang paham tentang sejarah di sekitaran sana namun waktu belum merestui untuk bertemu,namun kami pastikan akan kembali dan berharap bertemu dengan tupanrita disekitaran makam raja raja yang kami kunjungi “,Tutupnya.

Bawah Artikel MEWUJUDKAN KABUPATEN LUWU YANG MAJU SEJAHTERA DAN MANDIRI DALAM NUANSA RELIGI
Close