BULUKUMBA,-TEROPONGSULSELJAYA.Com- Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar yang saat ini menjalankan program BKP (bentuk kegiatan pembelajaran) dengan bermitra di Dinas Pengendalian penduduk,keluarga berencana,pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak melaksanakan FGD ( Focus Group Discussion) pada Rabu dan kamis 10 s.d 11 Mei 2023 di kantor PUSPAGA (Pusat Pembelajaran Keluarga) Kabupaten Bulukumba. FGD mengangkat tema “Mengenal anak dan remaja di kabupaten Bulukumba”. FGD ini bertujuan untuk mengetahui apa saja yang menjadi permasalahan,keresahan dan harapan anak dan remaja di kabupaten bulukumba.
FGD di ikuti oleh 43 orang dari 10 Kecamatan di kabupaten Bulukumba selama dua hari pelaksanaan. Di hari pertama di khususkan untuk anak di kabupaten bulukumba dengan jumlah partisipan sebanyak 25 orang dan di hari kedua dikhususkan untuk remaja dengan jumlah partisipan sebanyak 15 orang.
FGD ini diikuti oleh 43 peserta dari 10 kecamatan,Terdapat 25 anak di kabupaten bulukumba dari Osis,Pramuka dari SMAN 1 bulukumba dan SMAN 8 bulukumba serta Forum Anak Panrita Lopi yang menjadi peserta FGD di hari pertama. Dan 15 remaja di kabupaten bulukumba dari Dewan eksekutif mahasiswa (DEMA),UKM Pramuka,UKM KSR Palang merah Indonesia, Pergerakan Mahaiswa Islam Indonesia (PMII) dari kampus STAI Al-Ghazali dan juga ada komunitas peduli anak yatim dan fakir miskin kabupaten Bulukumba. Untuk 3 orang lainnya itu adalah pihak pelaksana.

” kami sendiri selaku mahasiswa psikologi UNM yang melakukan BKP di Dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak ini, ada Akhlakul Qarimah,Putri Khaerunnisa, dan saya sendiri Sahwa Ainul Magfirah”. Jelas Sahwa selaku moderator FGD.
Dalam pelaksanaan FGD anak di kabupaten bulukumba di hari pertama pelaksanaan (Rabu, 10 Mei 2023) masalah paling krusial yang di alami oleh anak ada pada diri mereka sendiri, beberapa anak mengatakan bahwa mereka sulit melawan rasa malas dan merasa kurang percaya diri.
Selain itu mereka juga mengungkapkan keresahannya dengan melihat adanya anak-anak seusia mereka yang tumbuh menjadi seorang pengemis, ada juga yang melakukan pergaulan bebas,seks bebas, dan bahkan ada yang melakukan pembusuran. Masalah stunting dan kesehatan mental juga menjadi permasalah utama bagi anak di kabupaten bulukumba.
“Jadi yang sering kali di hadapi oleh kami itu kak seperti permasalahan stunting yang dialami oleh anak-anak dan juga selain itu masalah kesehatan mental kak, dimana itu kesehatan mental dipengaruhi oleh faktor karena sering di bully begitu kak” Ungkap Ahmad Hafidz Zafran dari Forum Anak sebagai salah satu peserta FGD.
Di hari kedua pelaksanaan FGD bersama remaja di kabupaten bulukumba (Kamis, 11 Mei 2023) terdapat sudut padang yang berbeda. Beberapa masalah yang diungkapkan yaitu tentang pola asuh orang tua yang sangat berpengaruh bagi kehidupan remaja, karena bisa mempengaruhi lingkungan pergaulan remaja yang bisa berdampak baik atau buruk.
Kurangnya ruang berekspresi bagi remaja juga menjadi permasalahan remaja di kabupaten bulukumba, mereka juga mengungkapkan bahwa banyak remaja bulukumba yang memiliki kecerdasan dan kreatifitas tapi karena kurangnya perhatian pemerintah menjadi hambatan terbesar untuk berkembang.
“Saya merasa miris melihat remaja di kabupaten Bulukumba, karena arus pergaulannya yang mungkin kurang baik dikerenakan adanya beberapa faktor yang mempengaruhi hal tersebut, tetapi ada juga beberapa remaja yang sukses mengagungkan dan mengangkat nama baik kabupaten Bulukumba, juga remaja di Bukumba ini dapat dikatakan memiliki intelegensi dan kreatifitas yang tinggi” kata Nilam Mayasari dari organisasi PMII.
Permasalahan-permasalahan yang muncul tentu memiliki banyak faktor penyebab. Dalam diskusi disebutkan faktor lingkungan,pendidikan, keturunan, dan juga budaya yang menjadi faktor lahirnya masalah bagi anak dan remaja di kabupaten bulukumba.
“ Tentu saja dalam perkembangan anak dan remaja itu akan berbeda-beda. Bagaikan pisau bermata dua, ada yang ke arah positif ada yang ke arah negatif semua tergantung kesadaran diri. Banyak anak-anak yang didik menjadi pengemis sejak kecil ini bukan tanpa alasan, bisa saja ini karena faktor keturunan, pendidikan yang kurang dan faktor budaya, di bugis kita mengenal istilah siri’ (malu) tapi realita di lapangan sudah sangat kurang di temukan itu budaya siri’” kata Windi Pratiwi Yusdar selaku Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa STAI Al-Gazali Bulukumba.
Terakhir, harapan dari anak dan remaja di kabupaten bulukumba, semoga pemerintah lebih peduli lagi dan membuka mata terkait permasalahan-permasalahan di kabupaten bulukumba, khususnya bagi anak dan remaja yang tentunya diharapkan sebagai agen perubahan. Anak dan remaja di kabupaten bulukumba juga sangat membutuhkan wadah dan ruang untuk berekspresi dan berdiskusi. Mereka juga mengungkapkan pentingnya sosialisasi mengenai kesehatan mental, seks edukasi dan juga parenting.
“ Jadi di akhir sesi FGD ini, saya simpulkan bahwa yang menjadi keinginan anak dan remaja di kabupaten bulukumba adalah di beri wadah atau ruang untuk berekspresi, berharap pemerintah dapat mendukung anak dan remaja dalam berkegiatan positif, seperti melakukan pengabdian masyarakat dan juga pentingnya apresiasi bagi anak dan remaja. Pemerintah juga harus lebih peka terhadap masalah yang dialami oleh anak dan remaja bukan hanya melalui data tapi juga mencoba untuk melakukan pendekatan emosional hal ini tentu bisa dilakukan dengan adanya langkah preventif dan bekerja sama dengan dinas-dinas yang ada di bulukumba. Saya juga berpesan untuk anak dan remaja di kabupaten bulukumba untuk senantiasa berinisiatif mengembangkan inovasinya” Tutup Sahwa dalam pelaksanaan FGD bersama anak dan remaja di kabupaten bulukumba (**)






