Menu

Mode Gelap
Kantah Luwu Perkuat Integrasi Data NIB dan NOP, Dorong Data Pertanahan dan Perpajakan Semakin Terhubung Kantah Luwu Perkuat Pelaksanaan PTSL melalui Peninjauan Lapang di Tiga Desa Buka PRESTASI Bersama KPK, Menteri ATR/Kepala BPN Tanamkan Semangat Bekerja Mempermudah Rakyat Percepat PTSL 2026, Panitia Ajudikasi Kantah Luwu Tinjau Lapang di Empat Desa Kantah Luwu Serahkan Sertipikat PTSL kepada Masyarakat Desa Cimpu Utara Sinkronisasi Data, Menteri ATR/Kepala BPN dan Mendagri Sepakati Pengintegrasian NIB dan NOP

Daerah

Masyarakat Adat dianggap luhur sekaligus dihinakan !

badge-check


					Masyarakat Adat dianggap luhur sekaligus dihinakan ! Perbesar

BULUKUMBA,-TEROPONGSULSELJAYA.Com- Rabu lalu pemutaran film dokumenter Indigenous karya watchdoc digelar di Gear Coffe, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan 6/9/2023, yang juga merupakan satu-satunya titik pemutaran film di Kabupaten yang dikenal “Butta Panrita Lopi” atau tanah pembuat perahu Phinisi yang mendunia itu.

Dokumenter yang berdurasi hampir sejaman tersebut, menyuguhkan pengalaman sang peneliti Samsul Maarif, yang menjajaki beberapa masyarakat adat serta masuk lebih dalam mengenal agama kepercayaannya dan tata cara berkehidupan dari sistem yang mereka anut secara turun temurun.

Dalam beberapa scene diperlihatkan masyarakat adat memang sangat rentan akan stigma negatif yang (mungkin) bukan hanya terjadi sekarang, tapi sudah terjadi ketika penyebaran agama dan tata cara berkeyakinan yang dibawa oleh kaum penjajah melalui pendeta misionaris kristen saat masuk ke Indonesia sebagai motif penaklukan melalui monoteisme.

Dua wilayah yang menjadi background film Indigenous merupakan contoh kecil dari potret masyarakat adat yang ada di negara kita. Transisi dari negara terjajah ke negara merdeka ternyata menyisakan “Inlander Mentality” yang masih terbenam di alam bawah sadar masyarakat. Kenapa demikian? kita masih saja meminjam dan memakai pandangan kaum-kaum imperialis untuk melihat bangsa kita sendiri, salah satunya melihat masyarakat adat kita sebagai masyarakat yang tertinggal, terisolir, tidak beragama, dan segala tuduhan yang tidak didasarkan pada aspek ilmiah untuk melihat mereka secara fundamental.

The Indigenous mengajarkan kita untuk kembali bercermin darimana kita berasal dan mengenal diri kita dalam masyarakat sebagai suatu entitas yang tidak terlepas dari etnisitas yang komplek dan mengakar. Marginalisasi terhadap masyarakat adat marak kita lihat di layar kaca bagaimana tangan besi pemerintah mencoba mengakuisisi hak yang mereka jaga selama bertahun-tahun lamanya atas nama pembangunan infrastruktur dan pembaharuan. Tidak cukupkah stigma negatif yang melekat ke mereka sampai harus merebut hal fundamental yang membuat mereka tetap bertahan hidup dan lestari?

Ada hal yang menarik tentang mempelajari dan melihat masyarakat adat dalam konteks hari ini, dalam diskusi film The Indigenous yang dipantik oleh Andi Jusiman yang juga pemerhati budaya di Bulukumba tersebut memberikan tanggapan bahwa terjadi dikotomi dalam melihat masyarakat adat sebagai etnisitas luhur, contohnya ialah dalam setiap pegelaran budaya dan hari-hari besar, masyarakat hingga pejabat daerah seringkali mengagung-agungkan masyarakat adat sebagai bentuk keaslian nilai keluhuran disuatu daerah, bentuknya macam-macam, ada dengan menggunakan pakaian dan simbol adat secara serentak, ada juga mengunjungi kawasan adat sebagai bentuk penghargaan akan eksistensinya. Tapi disaat yang bersamaan masyarakat adat masih saja dianggap masyarakat yang bodoh, kolot, sesat, terisolir, dan stigma negatif lainnya. Pandangan seperti itu yang menjadikan masyarakat adat di satu sisi dan momentum dianggap luhur, di sisi lain masih terhinakan.

Baca juga

Kantah Luwu Perkuat Integrasi Data NIB dan NOP, Dorong Data Pertanahan dan Perpajakan Semakin Terhubung

15 Agustus 2026 - 16:55 WITA

Kantah Luwu Perkuat Pelaksanaan PTSL melalui Peninjauan Lapang di Tiga Desa

15 Agustus 2026 - 16:51 WITA

Buka PRESTASI Bersama KPK, Menteri ATR/Kepala BPN Tanamkan Semangat Bekerja Mempermudah Rakyat

15 Agustus 2026 - 16:47 WITA

Percepat PTSL 2026, Panitia Ajudikasi Kantah Luwu Tinjau Lapang di Empat Desa

15 Agustus 2026 - 09:28 WITA

Kantah Luwu Serahkan Sertipikat PTSL kepada Masyarakat Desa Cimpu Utara

15 Agustus 2026 - 09:23 WITA

Trending di Daerah