Menu

Mode Gelap
Malam Pertama Ramadan 1447 H, Wabup Luwu Ajak Warga Perkuat Iman dan Kepedulian Sosial Bupati Luwu Ganjar Juara MTQ XXXIV dengan Paket Umrah dan Hadiah Puluhan Juta Rupiah Jelang Ramadan 1447 H, Pemkab Luwu Gelar Gerakan Pangan Murah di Pasar Lama Bajo Ponrang Sabet Juara Umum MTQ XXXIII Luwu, H. Patahudding Dorong Kebangkitan Generasi Qur’ani Wakil Bupati Luwu Buka Gerakan Pangan Murah Jelang Ramadan 2026, Upaya Nyata Kendalikan Inflasi Tinjau Layanan Kesehatan, Bupati Luwu Evaluasi Langsung Kondisi Puskesmas Noling

Budaya

Ritual Budaya Mappacekke Wanua Warnai Rangkaian Acara Hari Jadi Kabupaten Luwu Ke–66

badge-check


					Ritual Budaya Mappacekke Wanua Warnai Rangkaian Acara Hari Jadi Kabupaten Luwu Ke–66 Perbesar

KAB LUWU, TEROPONGSULSELJAYA. com, -Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Luwu Ke-66, Pemerintah Kabupaten Luwu, melalui Dinas Pariwisata mengadakan acara adat budaya, “Mappacekke Wanua”, di Baruga Arung Senga Kec. Belopa Kabupaten Luwu, Rabu (2/7/2025).

Mengawali prosesi pada pagi hari pukul 08.00 Wita, Bupati Luwu, H. Patahudding, S.Ag, Wakil Bupati Luwu, Muh. Dhevy Bijak Pawindu, SH, Ketua DPRD Luwu, Ahmad Gazali, SE, Ketua TP-PKK Kabupaten Luwu, Hj. Kurniah Patahudding, A.Md, Ketua Bidang I TP-PKK, Nilasari Dhevy Bijak, SKM, Para Kepala OPD bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Luwu dengan memakai baju adat.

Bupati dan Wakil Bupati Luwu bersama rombongan kemudian mengawali ritual Mappacekke Wanua dengan ritual adat mallekke wae atau mengambil air suci dari bubung parani, sebuah sumur khusus sebagai sumber air yang digunakan dalam acara ritual adat.

Ritual ini dilakukan dipagi hari dengan harapan agar kesejahteraan hidup masyarakat adat akan senantiasa menanjak seperti matahari terbit di ufuk timur. Air suci yang diambil (ri lekke) melalui sebuah ritual adat dan kemudian diarak dengan sinrangeng lakko atau usungan adat di atas pangkuan seorang gadis remaja yang belum aqil baliq atau tenna wette dara sebagai simbol kesucian.

Sinrangeng lakko (usungan adat) tersebut diiringi oleh palluru gau (instrumen dan atribut-atribut upacara adat) serta para pemuka adat. Air yang disucikan tersebut diarak menuju Baruga Arung Senga untuk diletakkan di atas “Lamming Pulaweng” atau “Singgasana Kehormatan”.

Mappacekke Wanua merupakan ritual adat Tanah Luwu secara harfiah berarti mendinginkan negeri. Maksudnya adalah untuk mendinginkan suasana atau menghilangkan ketegangan-ketegangan dan keretakan-keretakan yang mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang bisa berakibat melonggarkan komitmen kesatuan yaitu maseddi siri’ diantara kalangan masyarakat.

Tujuannya melakukan rekonsiliasi untuk memulihkan keseimbangan (equilibrum) kesatuan ikatan masseddi’ siri’ antara seluruh komponen di dalam masyarakat. Keseimbangan persatuan dan kesatuan ikatan masseddi’ siri’ di dalam masyarakat diharapkan secara “adi kodrati” akan menciptakan suasana harmonis dan dinamis yang akan mendatangkan berkah berupa kedamaian dan kesejahteraan bersama.(kom)

Baca juga

Festival Pesisir Desa Raja: Pemuda Pesisir Jadi Garda Depan Menuju Indonesia Emas

18 Agustus 2025 - 10:38 WITA

Penutupan Lomba HUT-RI ke-80 di Desa Temboe Meriah, Jadi Ajang Silaturahmi Warga

17 Agustus 2025 - 19:50 WITA

Festival Pesisir Desa Raja Meriahkan HUT ke-80 RI: Pemuda Pesisir Didorong Jadi Kekuatan Menuju Indonesia Emas

17 Agustus 2025 - 10:14 WITA

Mappacekke Wanua: Sakralnya Tradisi Penyucian Negeri di Hari Jadi ke-66 Kabupaten Luwu

2 Juli 2025 - 22:06 WITA

Ketua Dekranasda Salurkan Bantuan Dana Untuk Tingkatkan Kualitas pengrajin Kelompok Kole Mandiri

17 Mei 2025 - 01:34 WITA

Trending di Budaya