Menu

Mode Gelap
Kantah Luwu Perkuat Integrasi Data NIB dan NOP, Dorong Data Pertanahan dan Perpajakan Semakin Terhubung Kantah Luwu Perkuat Pelaksanaan PTSL melalui Peninjauan Lapang di Tiga Desa Buka PRESTASI Bersama KPK, Menteri ATR/Kepala BPN Tanamkan Semangat Bekerja Mempermudah Rakyat Percepat PTSL 2026, Panitia Ajudikasi Kantah Luwu Tinjau Lapang di Empat Desa Kantah Luwu Serahkan Sertipikat PTSL kepada Masyarakat Desa Cimpu Utara Sinkronisasi Data, Menteri ATR/Kepala BPN dan Mendagri Sepakati Pengintegrasian NIB dan NOP

Budaya

Ritual Budaya Mappacekke Wanua Warnai Rangkaian Acara Hari Jadi Kabupaten Luwu Ke–66

badge-check


					Ritual Budaya Mappacekke Wanua Warnai Rangkaian Acara Hari Jadi Kabupaten Luwu Ke–66 Perbesar

KAB LUWU, TEROPONGSULSELJAYA. com, -Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Luwu Ke-66, Pemerintah Kabupaten Luwu, melalui Dinas Pariwisata mengadakan acara adat budaya, “Mappacekke Wanua”, di Baruga Arung Senga Kec. Belopa Kabupaten Luwu, Rabu (2/7/2025).

Mengawali prosesi pada pagi hari pukul 08.00 Wita, Bupati Luwu, H. Patahudding, S.Ag, Wakil Bupati Luwu, Muh. Dhevy Bijak Pawindu, SH, Ketua DPRD Luwu, Ahmad Gazali, SE, Ketua TP-PKK Kabupaten Luwu, Hj. Kurniah Patahudding, A.Md, Ketua Bidang I TP-PKK, Nilasari Dhevy Bijak, SKM, Para Kepala OPD bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Luwu dengan memakai baju adat.

Bupati dan Wakil Bupati Luwu bersama rombongan kemudian mengawali ritual Mappacekke Wanua dengan ritual adat mallekke wae atau mengambil air suci dari bubung parani, sebuah sumur khusus sebagai sumber air yang digunakan dalam acara ritual adat.

Ritual ini dilakukan dipagi hari dengan harapan agar kesejahteraan hidup masyarakat adat akan senantiasa menanjak seperti matahari terbit di ufuk timur. Air suci yang diambil (ri lekke) melalui sebuah ritual adat dan kemudian diarak dengan sinrangeng lakko atau usungan adat di atas pangkuan seorang gadis remaja yang belum aqil baliq atau tenna wette dara sebagai simbol kesucian.

Sinrangeng lakko (usungan adat) tersebut diiringi oleh palluru gau (instrumen dan atribut-atribut upacara adat) serta para pemuka adat. Air yang disucikan tersebut diarak menuju Baruga Arung Senga untuk diletakkan di atas “Lamming Pulaweng” atau “Singgasana Kehormatan”.

Mappacekke Wanua merupakan ritual adat Tanah Luwu secara harfiah berarti mendinginkan negeri. Maksudnya adalah untuk mendinginkan suasana atau menghilangkan ketegangan-ketegangan dan keretakan-keretakan yang mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang bisa berakibat melonggarkan komitmen kesatuan yaitu maseddi siri’ diantara kalangan masyarakat.

Tujuannya melakukan rekonsiliasi untuk memulihkan keseimbangan (equilibrum) kesatuan ikatan masseddi’ siri’ antara seluruh komponen di dalam masyarakat. Keseimbangan persatuan dan kesatuan ikatan masseddi’ siri’ di dalam masyarakat diharapkan secara “adi kodrati” akan menciptakan suasana harmonis dan dinamis yang akan mendatangkan berkah berupa kedamaian dan kesejahteraan bersama.(kom)

Baca juga

Ritual Sakral Maddoja Roja Warnai HUT ke-67 Luwu, Doa Bersama Mengawali Mappacekke Wanua

4 Juli 2026 - 19:28 WITA

Mallekke Wai HUT Luwu 67 :Air Sumur Arung Senga Diakar, Gadis Belum Balig Usung Ke Baruga

2 Juli 2026 - 14:28 WITA

Pawai Obor Memadati Jalan Belopa Sambut 1 Muharram 1448H

17 Juni 2026 - 00:19 WITA

Harmoni Tradisi dan Harapan: Tudang Sipulung di Desa Sampa Satukan Petani Sambut Musim Tanam

15 April 2026 - 20:27 WITA

Festival Pesisir Desa Raja: Pemuda Pesisir Jadi Garda Depan Menuju Indonesia Emas

18 Agustus 2025 - 10:38 WITA

Trending di Budaya