Menu

Mode Gelap
Wakil Bupati Luwu Buka Gerakan Pangan Murah Jelang Ramadan 2026, Upaya Nyata Kendalikan Inflasi Tinjau Layanan Kesehatan, Bupati Luwu Evaluasi Langsung Kondisi Puskesmas Noling Jembatan yang Dinanti Warga Akhirnya Berdiri, Bupati Luwu Resmikan Salubua–Kaili di Suli Barat Pemkab Luwu Luncurkan Gerakan Jumat Bersih, Dorong Kesadaran Kolektif Jaga Lingkungan Bupati Luwu Tekankan Evaluasi dan Penguatan Strategi Dakwah pada Pembekalan Muballigh Pemkab Luwu dan Masmindo Dwi Area Serahkan Fasilitas Pengolahan Nilam: Perkuat Usaha dan Peluang Kerja Masyarakat.

Kesehatan

Gigi Berlubang Tak Boleh Diabaikan: Risiko Penyebaran Infeksi dan Demam Tinggi

badge-check


					Gigi Berlubang Tak Boleh Diabaikan: Risiko Penyebaran Infeksi dan Demam Tinggi Perbesar

TEROPONGSULSELJAYA.com, – Gigi berlubang bukan sekadar masalah kecil yang bisa diabaikan, jika tidak ditangani segera,
infeksi dari gigi berlubang bisa menyebar ke bagian tubuh lain dan menyebabkan demam
tinggi yang berbahaya.

Gigi berlubang merupakan masalah kesehatan yang umum terjadi dan penyebab utamanya
adalah konsumsi makanan manis secara berlebihan. Di dalam mulut, terdapat bakteri alami
bernama Streptococcus mutans yang akan memanfaatkan sisa-sisa makanan manis yang
tertinggal lama pada permukaan gigi.

drg. Ayu Sabrini Muliani, salah seorang dokter gigi menjelaskan bahwa bakteri
Streptococcus Mutans gula dari makanan menjadi asam yang kemudian membentuk plak
pada gigi. Plak inilah yang secara perlahan akan merusak struktur gigi, menyebabkan gigi
berlubang.

“Jadi penyebab gigi berlubang paling utamanya itu adalah makanan yang manis manis, jadi
didalam giginya kita itu ada bakteri alami namanya streptococcus mutans yaitu kalo ada
makanan manis-manis yang tertinggal lama, bakteri itu akan memakan makanan manis-
manis terus dia akan membuat asam. Asam itu akan menjadi plak, plaknya itu nanti yang
akan lama-lama menghancurkan struktur giginya kita. Jadi, campuran gigi berlubang itu bisa
terjadi karena adanya bakteri alami, makanan manis dan plak,” ucapnya saat diwawancarai
pada Minggu (26/10/2025).

Terlihat data dari Kemenkes 57% penduduk usia di atas tiga tahun mengalami masalah gigi,
namun hanya 11,2% atau sekitar 3 juta orang yang mencari pengobatan. Hal ini bisa bukan
hanya berdampak pada kesehatan mulut ttetapi juga berdampak pada kesehatan tubuh
manusia.

Ayu mengatakan, dampak mendiami gigi berlubang yaitu terjadi infeksi yang bisa menjalar
ke akar gigi untuk menghancurkan gigi bahkan bisa menimbulkan bengkak dan bernanah.

“Dampaknya itu ada banyak, jadi pertama infeksinya nanti akan ke akar gigi disitu dia akan
kasih hancur giginya nanti kalau sudah hancur giginya sisa akar giginya bahkan bisa sampai
bengkak, bernanah terus kalau sudah parah bisa sampai dicabut mesti dicabut giginya,”
ujarnya.

Senada dengan itu, ia menjelaskan bahwa gigi berlubang seringkali menyebabkan sakit
kepala karena terdapat saraf yang tersambung ke kepala yaitu Nervus Trigeminal dan gigi
berlubang juga bisa mengakibatkan demam karena itu adalah bentuk reaksi terhadap tubuh
kita jika terdapat bakteri dilubang gigi hingga akhirnya menyebabkan demam.

“Kalau yang menjalar ke kepala memang digigi ini ada saraf yang tersambung ke kepala
namanya dia nervus trigeminal jadi dia begini ke gigi ada, ke mata ada dan ke kepala juga
ada jadi kalau sakit gigi bisa sampai ke kepala. Kalau demam itu tandanya kita punya badan
bereaksi kalau ada infeksi, dilubang kan ada infeksi didalamnya jadi dia kasih tanda bilang
ini lagi ada bakteri yang bekerja dibadannya kita ada kuman, ada infeksi ada inflamasi
makanya kita demam,” sambungnya.

Mengutip dari Jurnal Dewa dan kawan-kawan, Saraf Trigeminal merupakan saraf kranial
kelima dan terbesar yang bertanggung jawab dalam mempersarafi rangsang sensorik dan
motorik pada daerah kraniofasial.

Wiryafaiq yang mengalami gigi berlubang mengatakan, bahwa gigi berlubang sangat
menggannggu aktivitas sehari-harinya seperti makan dan tidur.

“Yah mengganggu sekali iya, apalagi saat tidur itu waktu istirahat toh, waktu mauki tidur
dari capeknya dunia yah susah tidur, kalo makan yah pasti susah makan juga,” tuturnya saat
diwawancarai pada Jumat (14/11/2025).

Ia juga menjelaskan bahwa tidak pernah ke rumah sakit untuk menindak lanjuti giginya
tetapi waktu menduduki Sekolah Dasar (SD) terdapat satu program sekolah untuk layanan
kesehatan gigi gratis bagi siswa, termasuk pemeriksaan, tambal gigi dan perawatan dasar
lainnya.

“Kalau saya pribadi iya tidak pernah ka pergi ke dokter kayak cabut gigi apa tapi pernah ka
satu kali itu tambal waktu ku SD, dari pihak sekolah langsung yang suruh ki tambal gratis
jadi yah pernah ka satu kali tambal cuma itu ji dan berpengaruh sekali sampai sekarang tidak sakitmi lagi” ungkap Wirya.

Zahwa juga menjelaskan, bahwasanya ia pernah mengalami demam hingga sakit kepala
dikarenakan giginya yang berlubang.

“Sampai demam, kalau demam minum ja obat demam tapi pernah juga menjalar mi dikepala
ku toh pergi ka lagi periksa di dokter. Nabilang juga dokternya kalau sakit gigi itu bakalan
menjalar ki ke kepala dan demam jadi nakasih memang obatnya,” ujarnya saat diwawancarai
pada Sabtu (15/11/2025).

Senada dengan itu, ia juga menceritakan bahwasanya sudah melakukan tambal gigi yang
direkomendasikan langsung oleh dokter gigi.

“Ditambal, sebenarnya na sarankan ka untuk dicabut tapi nabilang kalo dicabut itu bakalan
parah karna gigi anu rahang bakalan parah kalo dicabut, jadi nakasih ka lagi opsi untuk
ditambal tapi lama prosesnya nasuruh ka dulu rontgen na suruh ka apa jadi ditambal ji,”
lanjut Zahwa.

Dokter gigi, Ayu menmberikan saran untuk gosok gigi dua kali sehari, pagi dan malam
sebelum tidur menggunakan pasta gigi berfluorida menjadi fondasi perawatan harian yang
krusial dan kunjungan rutin ke dokter gigi setiap enam bulan memungkinkan deteksi dini
lubang kecil yang dapat ditambal segera sebelum berkembang menjadi kerusakan parah.

“Sarannya yang pertama pasti kurangi makan manis-manis, yang kedua harus sikat gigi dia
kali satu hari pagi dan malam sebelum tidur, yang ketiga pakai pasta gigi yang berfluoride.
Terus yang terakhir idealnya ke dokter gigi 6 bulan sekali supaya dokter gigi bisa lihat kalau
ada lubang kecil cepat ditambal sebelum dia jadi lubang besar,” tutupnya.
***Nur Fadilah***

Baca juga

Tinjau Layanan Kesehatan, Bupati Luwu Evaluasi Langsung Kondisi Puskesmas Noling

14 Februari 2026 - 12:05 WITA

Harga Gabah Anjlok di Kecamatan Bua: Petani Dipaksa Merugi, Bulog Menghilang Ketika Dibutuhkan

18 November 2025 - 07:26 WITA

Mendidik dalam Bayang Kekuasaan: Mengapa Rakyat Cerdas Sering Dianggap Ancaman”

23 Oktober 2025 - 12:03 WITA

KOLABORASI YANG MENGHIDUPKAN: CERITA RELIMA DAN PERPUSTAKAAN DI BULUKUMBA

13 Oktober 2025 - 00:15 WITA

Di Bawah Kabel Tegangan Tinggi, Negara Diam — Rakyat Dibiarkan Hidup Dalam Ketakutan

11 Oktober 2025 - 10:48 WITA

Trending di Opini