TEROPONG SULSEL JAYA.com,- BANTAENG,-Hingga saat ini virus yang dikenal luas sebagai Novel Corona virus (Covid-19) masih terus menjangkiti manusia pasca pertama kali muncul di Wuhan, China pada akhir 2019, wabah penyakit ini makin meluas ke berbagai negara termasuk Indonesia.
Penyebaran Covid-19 yang sangat cepat dan meluas ke seluruh dunia kemudian ditetapkan oleh WHO sebagai Pandemi Global. WHO (World Health Organization) telah mengumumkan wabah ini dengan status Global Health Emergency. Himbauan untuk tetap tenang dan waspada terus digaungkan.
Bukan hanya pada abad ini saja dunia diperhadapkan dengan wabah penyakit yang mematikan, dalam catatan sejarah wabah penyakit berskala besar terjadi satu kali setiap seratus tahunnya, sebut saja wabah Pes pada tahun 1346.

Penyakit pes yang menjangkiti manusia waktu itu menyebabkan kematian hingga ratusan juta jiwa, hingga peristiwa ini dijuluki kematian hitam (black death). Kita tentu sepakat bahwa waktu dan peristiwa tidak mungkin terjadi secara berulang (sirkuler). Akan tetapi fenomena ini hampir memiliki kesamaan dengan dengan wabah pes pada abad ke 14 itu.
Dalam catatan sejarah, wabah pes konon disebarkan melalui kutu yang hidup pada di tikus China yang disebarkan oleh para saudagar yang menyusuri jalur sutra, yang merupakan urat nadi perdagangan dikawasan trans Asia. Rombongan saudagar yang berasal dari Genoa itu rupanya ditumpangi oleh tikus-tikus yang dalam sekejap menyebarkan kutu-kutu pembawa wabah ke seluruh penjuru kota Tana dan akhirnya keseluruh kawasan mediterania tak luput dari serangannya.
Memasuki awal Tahun 1347 gelombang penyakit ini sudah menyerang konstantinopel di Turki. Pada musim semi 1348 wabah penyakit ini sudah meneror Prancis, Afrika Utara hingga Italia. Wabah itu menyebabkan kematian hampir separuh penduduk dari daerah yang disasarnya. Adalah Daron Acemoglu bersama James A. Robinson dua dari sekian banyak penulis yang telah mencatat peristiwa ini dalam sebuah buku yang berjudul Mengapa Negara Gagal.
Beberapa ahli berasumsi bahwa penyebaran wabah pes pada periode 1347-1348 sulit dibendung karena teknologi mutakhir untuk mencegah penularan penyakit tersebut masih belum secanggih teknologi abad ini, meskipun terdapat tanda fisik berupa benjolan hitam pada diri penderita. Jika hal tersebut menjadi alasan, lantas mengapa wabah covid-19 yang terjadi ditengah pesatnya perkembangan teknologi diberbagai sektor tak terkecuali pada bidang kesehatan sulit untuk dibendung?.
Jauh sebelum wabah penyakit ini meluas, beberapa ahli terutama ahli kesehatan telah menyarankan kepada masyarakat untuk menjaga jarak sosial (social distancing) hingga melakukan pekerjaan dirumah. Namun tak bisa dipungkiri bahwa himbauan untuk bekerja dirumah hanya bisa dilakukan pada jenis pekerjaan tertentu, bagi masyarakat tertentu bekerja dirumah sama dengan kehilangan pekerjaan.
Himbauan pemerintah tentu menuai pro dan kontra ditengah masyarakat, terlebih dikalangan masyarakat yang memang pekerjaannya harus dilakukan diluar rumah seperti petani dan nelayan. Beberapa waktu lalu kita dikejutkan dengan asumsi aparatur negara yang justru menyalahkan masyarakat kelas bawah dan menganggapnya sebagai penyebar virus. Ditengah kemelut wabah penyakit, korporasi besar juga tidak henti-hentinya melakukan perampasan lahan dan kriminalisasi petani seperti yang terjadi di Sumatera Selatan pada awal bulan april 2020. Hal ini memperlihatkan bahwa majunya teknologi kesehatan tidak menjamin penularan virus covid-19 dapat dihentikan jika tidak dibarengi dengan kesadaran setiap individu.
Terlepas dari segala kemelut yang terjadi, kesadaran individu sangat dibutuhkan dalam menghadapi pandemi ini. Bijak juga untuk mematuhi karantina dan social distancing (jeda berkumpul) atau pun himbauan untuk pemakain alat bantu kesehatan semisal masker dan cairan hand sanitizer serta prosedur dan panduan lainnya.
Kesadaran masyarakat dan pemerintah diperlukan dalam dua hal pokok, yaitu: beradaptasi terhadap disrupsi dan distraksi (usikan) pandemi Covid-19 serta berusaha memotong mata rantai penyebaran virus ini.
Wabah virus corona merupakan sebuah bencana yang cukup memberikan beban yang begitu besar bagi banyak pihak meliputi tenaga dari setiap dokter, perawat, ilmuwan, pekerja sipil dan lain sebagainya. Mereka bekerja hampir dua puluh empat jam untuk membantu mengobati para pasiennya.
Mereka mengeluarkan seluruh tenaga mereka untuk bisa mengatasi wabah ini. Walaupun sebenarnya mereka sendiri juga mengetahui jika wabah ini memiliki resiko yang cukup besar bagi mereka sendiri, bahkan banyak hal yang harus dikorbankan untuk membantu mereka para korban terinfeksi.
Fenomena covid-19 juga mesti jadikan sebagai suatu bahan refleksi bagaimana cara kita hidup dibumi ini. Wabah ini memperlihatkan pada kita bahwa semua diri terkoneksi dengan sesuatu yang lebih besar dan lebih tinggi. Di bawah ancaman virus ini semua diri tular menular, semua bangsa papar- memapar, semua kekuatan tembus menembus. Covid-19 bisa menjangkiti segala agama, semua klaim kebenaran semua ras tanpa diskriminasi.
Demikianlah wabah covid-19 mengingatkan kita agar senantiasa mawas diri dan waspada. Bahwa semua manusia adalah ahli waris jagad yang sama dengan hulu mata air spiritualitas yang sama. Kebahagiaan hidup bersama akan terengkuh manakala kita bisa menyalakan cahaya iman dan pengetahuan sebagai pelita jiwa, dengan membangun relasi harmonis dengan Sang Pencipta, sesama manusia dan alam semesta. Semua relasi itu bisa dihidupi manakala dipusat jiwa kita terpancar cahaya cinta.
Penulis: Sutrisno (Ketua HmI Cabang. Bantaeng)
Reporter/editor: Kadimorfati






