KAB LUWU UTARA,TEROPONGSULSELJAYA.com.
– Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Malangke (AMAL ), Organisasi yang terlibat diantaranya JIN, IPMT, PEMILAR KOM. MALANGKE melakukan aksi unjuk rasa dalam hal menagih janji Pemerintah Luwu Utara terkait banjir tahunan yang terjadi di Kecamatan Malangke, Kabupaten Luwu Utara, Senin (29/06/2020).
Kecamatan Malangke adalah daerah yang sudah bertahun-tahun menjadi langganan amukan banjir disetiap musim penghujan tiba dan belum sama sekali ada respon pencegahan yang berusahan dilakukan oleh pemerintah setempat.
Teridiri 14 Desa di Kecamatan Malangke dan 9 diantaranya menjadi langganan tetap banjir yang juga menjadi ancaman perekonomian warga lantaran setiap datangnya banjir maka warga harus siap mengelus dada karena akan mengalami kegagalan panen akibat lahan-lahan pertanian terendam banjir.

Daptar Desa yang setiap tahun teredam banjir;
1. Desa Tingkara
2. Desa Tolada
3. Desa Pettalandung
4. Desa Girikusuma
5. Desa Malangke
6. Desa Pince Pute
7. Desa Pute Mata
8. Desa Benteng
9. Desa Tokke
Berangkat dari hasil dialog Pemilar Komisariat Malangke bersama pemerintah Daerah tahun 2019 lalu yang menghasilkan sebuah kesepakatan, namun naas sampai saat ini belum di realisasikan oleh pemerintah Daerah sedang sekarang sudah memasuki pertengahan tahun 2020 ini.
Pada hari ini tepatnya pada Tanggal (29/06) penantian warga berujung pada sebuah kekecewaan sehingga Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Malangke memutuskan untuk turun ke jalan menagih janji pemerintah Daerah yang tak kunjung merealisasikan MoU kesepakatan dalam dialog 2019 lalu.
Aksi unjuk rasa yang di lakukan oleh Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Malangke dimulai dari Desa tolada dan berkonfoi menggunakan mobil pick up dan di ikuti rombongan kendaraan beroda dua di belakang mobil komando, dalam perjalanan menuju monumen Masamba massa melakukan orasi ilmiah, puisi perlawanan, nayayian perjuangan, teatrikal dan menabur biji jangun sebagai bentuk kekecewaanya terhada pemerintah Daerah yang tak kunjung memenuhi kesepakatan MoU hasil kesepakatan dialog pada 2019 saat itu.
Herwiansayah selaku koordinator lapangan menyampaikan dalam orasinya bahwa kami masyarakat Malangke juga bagian dari Luwu Utura kami bukan anak tiri, lantaran mengapa pemerintah memperlakukan kami seperti anak tiri bahkan lebih parah dari itu.
“Setelah usai di monumen Massamba melakukan berbagai parian aksi, massa pun kami arahkan menuju kantor Bupati untuk menemui Ibu Bupati Luwu Utara, hingga pada saat massa sampai, kami sangat kecewa lantaran Bupati tak ada di tempat,” sesalnya.
Lanjutnya, “kami tetap melanjutkan aksi di depan kantor Bupati Luwu Utara sampai kami ditemui oleh Sekertaris Daerah Kabupaten Luwu Utara dan beberapa kepala dinas, diantaranya kepala Dinas PUPR, BPBD dan Kepala dinas KLHK,”
“Pada saat massa aksi melakukan dialog bersama Sekertaris Daerah dan beberapa kepala Dinas yang sempat hadir kami menerima sebuah kesepakatan soal penanganan banjir yang sudah sejak lama menghantui masyarakat Kecamatan Malangke,” bebernya.
“Bapak Suaib Mansur memberikan kami pengangan dirinya mengatakan bahwa esok hari kita akan melakukan pengerjaan di Kecamatan Malangke dan dua unit mesin penyedot pasir akan kita bawa ke lokasi, tidak hanya itu sekertaris Daerah juga ikut menambahkan persoalan janji pemerintah Daerah tentang pengadaan mesin penyedot pasir yang akan di peradakan sebayak tiga unit paling lambat bulan agustus mendatang,” terangya.
“Dari hasil dialog dan statemen pemerintah Daerah terkait penanganan banjir kami akan kawal dan akan melakukan unjuk rasa dengan massa yg lebih besar ketika pihak pemerintah Daerah tidak segera merealisikan apa yg menjadi kesepakatan MoU Pemda dan pemilar Komisariat Malanke, jika Pemerintah Kabupaten Luwu Utara dalam hal ini Bupati Luwu Utara tidak mampu menunaikan kesapakan yang telah dibangun bersama, maka Kredibilitas pemerintah Daerah Luwu Utara dibawah kepempinan Ibu Indah kami pertanyakan, pemerintah kami anggap gagal dalam memajukan daerah Luwu Utara sebagai daerah yang maju dalam sektor pertanian selama ini, Ibu Idah gagal dalam mewujudkan visi misinya sebagai Bupati Luwu Utara,” Tutup Herwiansyah (aks)
Reporter: Kadimorfati as
TeropongSulselJaya






