BUA,TEROPONGSULSELJAYA.com
– Saat bencana tiba, seperti banjir di Masamba belum lama ini, kerusakan fisik acapkali mengikuti. Berbagai fasilitas seperti rumah, tempat ibadah, dan infrastruktur jalan umumnya rusak dan lumpuh. Warga sekitar lokasi bencana pun menjadi insan terdampak bencana. Ada yang meninggal, ada pula yang selamat namun kehilangan anggota keluarga dan barang berharga.
Tidak pelak, bencana memanggil kepedulian kita sebagai sesama manusia. Atas nama kemanusiaan, tidak sedikit elemen masyarakat, baik individu maupun lembaga, berempati merespons atas bencana yang terjadi. Mereka berbondong-bondong berdonasi, secara langsung maupun melalui lembaga kemanusiaan, sebagai bentuk kepeduliaan.
Berbicara mengenai bencana, bagaimanapun, kita tidak bisa lepas dengan istilah sukarelawan (volunteer) atau relawan. Mereka adalah orang yang rela turun tanpa pamrih untuk membantu para korban atau warga terdampak bencana di lokasi kejadian.

Mereka, para relawan, bahkan kerap menghadapi berbagai hal yang berbahaya dalam menjalankan tugas keralawanannya. Nyawa mereka pun menjadi taruhan. Bila gugur, insya Allah, mereka gugur dalam kebaikan lantaran sedang menjalankan tugas nan mulia.
Salam hormat kepada para relawan bencana yang selama ini membantu para korban. Sungguh, kita harus berterima kasih kepada para relawan yang mau bahu-membahu menolong sesama bahkan kerap hingga mempertaruhkan nyawa.
Menjadi relawan adalah sebuah keterpanggilan jiwa. Sebagai mahluk sosial, sejatinya setiap orang ingin membantu sesama yang kesulitan semampu kemampuan yang dimiliki. Hal inilah yang dirasakan Rizal (39), salah seorang relawan banjir masamba yang bergabung bersama tim kemanusiaan Relawan Pemuda Bua,Kec Bua,Kab Luwu.

“Ada kepuasaan tersendiri saat terjun menjadi relawan membantu sesama di lapangan. Ada sesuatu yang beda saat terjun langsung membantu,” kata Rizal, kamis (23/07) kepada team media teropongsulseljaya.com.
Sejak Selasa (14/07) lalu, rizal yang berasal dari Bua ini meluncur bersama Relawan Pemuda Bua ke lokasi bencana. Rizal bersama relawan lainnya dalam misi membawa bantuan. Selama beberapa hari, rizal bersama tim berjibaku memgantar bantuan bantuan ke posko posko pengungsi.
Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai security ini menuturkan, aktivitas kerelawanan sudah ia lakukan sejak lama.
Rizal juga menyampaikan bahwa “ini sebuah kebanggaan besar karena pemuda bua mau bersatu ini adalah satu sejarah,kebersamaan dan kerja team yang solid dengan dukungan penuh dari pemerintah kec bua”.
Di tempat yang sama Muhd Aditia selaku korlap dalam misi kemanusiaan ini mengakui, menjadi relawan tidak hanya soal modal kepedulian. Relawan juga harus mempersiapkan mental, fisik, kesehatan, dan pengetahuan. Dengan begitu, keberadaannya akan sangat maksimal dalam membantu korban.
“Mental terutama. Harus dipersiakan segala sesuatunya. Saya pun Belajar dari para senior,” jelasnya.

Aktivitas kerelawanan tidak pelak sering meninggalkan keluarga dan kehidupan sehari-hari. Jauh dari keluarga dan rentan terhadap penyakit. Aditia pun menyarankan agar selalu menjaga kesehatan salah satunya dengan teratur dalam makan.
“Jangan sampai kita malah merepotkan para korban karena kita sakit,” jelas aditia.
Setiap hendak berangkat menjadi relawan, Aditia senantiasa meminta izin dan doa dari orang tua. Izin dan ridho orang tua akan menjadi kekuatan selama menjalani tugas kerelawanan di lokasi bencana. “Tentu. Meminta izin orang tua. Alhamdulillah, selalu diizinkan,” ujarnya.

Hari ini tepatnya Kamis 23/07/2020.
Team relawan pemuda bua mengakhiri misinya di Masamba.
Team relawan kembali dengan selamat.
Aditia menyampaikan satu pesan di group whatsapp milik relawan pemuda bua :
“Dari Bua Dengan Cinta Untuk Luwu Utara yang Dirundung Duka
Mata tak mampu menahan Tangis kala bencana menimpa Saudara kita di Luwu Utara. Batin terusik, Nurani pun tergerak untuk memberi kontribusi yang terbaik. 9 hari lamanya berjibaku dengan ganasnya terik matahari, hujan, medan yang sulit hingga lumpur yg banyak menimbun rumah warga hanya untuk bagaimana membuat bunga masamba kembali mekar.
Terima Kasih kepada para Donatur yang telah tergerak nurani nya dan mempercayakan kami untuk saling bahu membahu membantu saudara kita yang sedang di landa bencana di luwu utara. Terima kasih ku juga kepada Pem. Kec. Bua, Desa-desa, KKBL Morowali, Ibunda, Ayahanda, dan Kakanda yang telah memberi support untuk kami para Relawan Pemuda Bua yang kali pertama Menjadi Relawan Bencana. Maaf tak sempat menyebutkan nama satu persatu, sebab Malaikat sudah Tahu dan mencatat amal ibadah yg telah kita lakukan
Saya Selaku Korlap Hari ini Menarik diri bersama kawan2 yang tergabung dalam Relawan Pemuda Bua.
Kami Pamit ???
Lekas Mekar Kembali Bunga Masamba, Harum Semerbakmu Kami Rindukan” tulis Muhd Aditia.
Laporan : Alfan.






