LUWU TIMUR, TEROPONGSULSELJAYA.com, – Angin sore berhembus lembut di tepian Pelabuhan Danau Matano, Desa Sorowako, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, ketika rombongan Kurir Langit Indonesia tiba dengan kendaraan Operasionalnya membawa bantuan. Di lokasi itulah berdiri Posko Induk Bencana Kebakaran, tempat para korban mengumpulkan sisa tenaga dan harapan setelah rumah mereka hangus dilalap api beberapa waktu lalu. Kamis, (04/09/25).
Kurir Langit Indonesia, yang kali ini diwakili oleh Kurir Langit Luwu, datang tidak sekadar dengan tumpukan sembako. Mereka datang membawa semangat kemanusiaan. Dipimpin langsung oleh Ketua Kurir Langit Luwu, Jumardi, didampingi Bendahara Ustadz Saifullah, serta rombongan relawan, bantuan berupa beras, air minum, mie instan, minyak goreng, susu, dan kebutuhan pokok lainnya diserahkan dengan penuh keikhlasan kepada Ketua Posko Induk.

Di balik penyerahan itu, ada suasana haru yang tak terucap. Warga yang berkumpul di posko tampak menatap penuh syukur. Sebab di tengah keterbatasan, mereka tidak merasa sendirian masih ada tangan-tangan yang rela datang jauh-jauh untuk peduli.
Ketua Kurir Langit Luwu, Jumardi, dengan suara bergetar menyampaikan,
“Kami hadir di sini bukan hanya membawa bantuan, tapi membawa pesan persaudaraan. Kami ingin para korban tahu, ada banyak hati yang ikut peduli dan berdoa untuk mereka. Semoga bantuan kecil ini dapat meringankan beban, dan semoga mereka diberi kekuatan untuk bangkit kembali,” ujarnya.
Bendahara Kurir Langit Luwu, Ustadz Saifullah, menambahkan,
“Setiap dus mie, setiap karung beras, adalah titipan amanah dari para dermawan yang hatinya tergerak untuk berbagi. Kami hanyalah jembatan, perantara agar kebaikan itu sampai. Inilah semangat Kurir Langit: bergerak bersama, menebar manfaat, dan menyalakan harapan,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Posko Induk Bencana Nuha tak bisa menyembunyikan rasa terima kasihnya.
“Kami sangat berterima kasih kepada Kurir Langit Indonesia melalui Kurir Langit Luwu bersama rombongan yang hadir di tengah kami. Bantuan ini bukan hanya soal sembako, tapi juga semangat dan penguat bagi warga yang sedang berjuang bertahan. Kehadiran ini memberi arti bahwa kami tidak sendirian,” ungkapnya penuh haru.
Bantuan kemanusiaan ini menjadi bukti nyata bahwa di balik setiap bencana, selalu ada ruang bagi solidaritas dan kepedulian. Dari tepian Danau Matano yang tenang, masyarakat belajar bahwa gotong royong adalah warisan yang terus hidup. Pesan moralnya sederhana namun dalam: musibah adalah ujian, tetapi kepedulian adalah jawaban yang membuat manusia semakin berarti.
***kurty***







