KAB LUWU, TEROPONGSULSELJAYA.com, – Kepala Kantor Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Kabupaten Luwu, Andi Sufiarma, SH, MH, menegaskan bahwa tanah dan ruang harus dijaga sebagai amanah untuk kesejahteraan rakyat. Hal ini disampaikannya pada peringatan Hari Agraria dan Tata Ruang Nasional (HANTARU) 2025 yang digelar di halaman Kantor ATR/BPN Luwu, Rabu (24/9/2025).
Dengan tema nasional “Tanah Terjaga, Ruang Tertata, Wujudkan Asta Cita”, ia mengingatkan pesan penting dari Menteri ATR/BPN: tata ruang jangan sampai bergeser menjadi “tata uang”. “Ini bukan sekadar slogan. Di Luwu, kami ingin memastikan tanah terlindungi, ruang tertata, dan rakyat merasakan manfaatnya,” tegas Andi.
Ia memaparkan, hingga September 2025 pendaftaran tanah di Indonesia telah mencapai 123,1 juta bidang, dengan 96,9 juta bidang sudah bersertipikat. “Di Luwu, kami terus mempercepat program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL). Sertipikat tanah bukan hanya bukti kepemilikan, tetapi juga pintu bagi masyarakat untuk mengakses permodalan, mengembangkan usaha, dan meningkatkan kesejahteraan,” jelasnya.

Selain soal legalitas tanah, Andi menyoroti pentingnya penataan ruang yang adil. Dari target nasional 2.000 Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), sudah terbit 646 RDTR dan 428 di antaranya terintegrasi dengan sistem perizinan OSS. “Di Luwu, kami siap berkolaborasi dengan pemerintah daerah agar tata ruang jelas, investasi mudah, tapi tetap berpihak pada masyarakat dan lingkungan,” imbuhnya.
Dalam sambutannya, ia juga menegaskan dukungan terhadap Reforma Agraria. Tanah terlantar menurutnya akan dievaluasi dan diarahkan untuk rakyat kecil, khususnya petani dan masyarakat berpenghasilan rendah. “Setiap jengkal tanah adalah amanah. Jangan sampai telantar. Tanah di Luwu harus kembali memberi manfaat: untuk pangan, untuk rakyat, untuk pembangunan,” tegasnya.
Di akhir acara, Andi mengajak seluruh jajaran BPN dan masyarakat menjadikan HANTARU sebagai momentum refleksi bersama. “Dari tanah yang terdaftar lahir kepastian hukum, dari sawah yang terlindungi lahir ketahanan pangan, dan dari ruang yang tertata hadir kesejahteraan. Mari jaga tanah, tata ruang, dan wariskan masa depan yang lebih baik untuk Luwu,” tutupnya.
Pesan moral ; Peringatan HANTARU di Luwu bukan sekadar seremonial, melainkan ajakan moral bagi semua pihak. Tanah dan ruang bukan hanya soal kepemilikan, tetapi juga tanggung jawab lintas generasi. Jika hari ini kita abai, besok anak cucu hanya akan mewarisi konflik dan kerusakan. Namun bila tanah dijaga dan ruang ditata dengan adil, ia akan menjadi sumber kesejahteraan, ketahanan pangan, dan keberlanjutan. Inilah warisan terbaik yang bisa kita titipkan untuk masa depan Luwu.
***kurty***






