Menu

Mode Gelap
10 Santri Ma’had Tahfizhul Qur’an Habiburrahman Luwu Resmi Diwisuda sebagai Hafiz 30 Juz Ketua Dekranasda Luwu Ikuti Jalan Sehat HUT Dekranas ke-46, Perkuat Sinergi UMKM dan Gerakan Hidup Sehat KKP Tinjau Lokasi Kampung Nelayan di Luwu, Bupati Patahudding Pastikan Kesiapan Lahan Wastra Khas Luwu Tampil di Premium Expo HUT Dekranas ke-46, Ketua Dekranasda Hadiri Rangkaian Kegiatan Produk UMKM Luwu Tampil di HUT ke-46 Dekranas, Bupati Tinjau Stand Dekranasda Dewan Pers Tegaskan MoU dengan Polri Utamakan Penyelesaian Sengketa Pers Lewat UU Pers

Sosial

Atasi Bau Sampah di TPA Antang, DLH Lakukan Penyemprotan Ekoenzym

badge-check


					Atasi Bau Sampah di TPA Antang, DLH Lakukan Penyemprotan Ekoenzym Perbesar

MAKASSAR, TEROPONGSULSELJAYA.com, – Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang di Kota Makassar terus berada dalam tekanan serius akibat volume sampah yang kian meningkat. Gunungan sampah yang menjulang tidak hanya memicu bau menyengat, tetapi juga beresiko mencemari tanah dan air tanah melalui air lindi, serta meningkatkan emisi gas metana (CH₄) yang berkontribusi terhadap pemanasan global. 

Sebagai respons atas keluhan warga, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar melakukan penyemprotan ekoenzim, cairan hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah dan sayuran. Penyemprotan ini tak dilakukan sendiri, pihaknya bekerja sama dengan International Nature Loving Association (INLA) Sulawesi Selatan dan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Makassar.  

Menurut Dr. Herdie Idriavien Gusti., S.Si., M.T., penyusun rencana kebijakan Bidang Persampahan DLH Kota Makassar mengatakan bahwa metode ini digunakan untuk menekan bau menyengat yang kerap terbawa angin hingga ke kawasan permukiman.

“Penyemprotan ekoenzim dilakukan ketika baru sudah dianggap mengganggu masyarakat. Ini salah satu cara paling efektif yang kami miliki saat ini untuk meredam polusi bau,” katanya saat diwawancarai pada Kamis, (11/12/2025)

Lebih lanjut, ia menjelaskan ekoenzim dipilih karena bersifat bahan yang cepat terurai dan relatif aman bagi lingkungan. Selain diaplikasikan pada timbunan sampah, cairan ini juga disemprotkan pada air lindi yang menjadi salah satu sumber utama bau.

Sejalan dengan yang dikatakan Herdie, dikutip dari jurnal agroekoteknologi terapan juga sependapat dengan hal tersebut. Bahwasanya ekoenzim adalah hasil dari fermentasi limbah dapur organik seperti kulit buah-buahan dan sayuran, gula (gula coklat, gula merah atau gula tebu) dan air. Produk Ekoenzim merupakan produk ramah lingkungan yang mudah digunakan dan diproduksi. Produksi ekoenzim hanya membutuhkan air, gula sebagai sumber karbon, dan limbah organik dari sayuran dan buah-buahan.

Ekoenzim dapat digunakan untuk mengurangi jumlah sampah rumah tangga, khususnya sampah organik dengan komposisi kandungan tinggi.
Di tingkat warga, dampak program ekoenzim dirasakan beragam. Muliani (24), warga yang tinggal di sekitar TPA Antang, mengaku sulit menilai perubahan karena telah lama terbiasa dengan kondisi lingkungan tersebut.

“Kalau orang baru datang, biasanya mereka bilang baunya kuat. Tapi kalau kami yang tinggal di sini, rasanya sudah biasa,” ujarnya saat diwawancarai pada Minggu, (7/12/2025)

Sementara itu, Suharti (63), Ketua RT di Kompleks Borong Jambu, menilai ada sedikit penurunan bau, tetapi sosialisasi program belum merata. 
“Kami sering dengar ekoenzim ini bagus, tapi banyak warga belum pernah lihat langsung cairannya atau diajari cara membuatnya. Jadi masih ragu,” katanya pada Minggu, (7/12/2025)

Namun, dari sudut pandang ilmiah, pengaruh ekoenzim memiliki batas yang jelas. Prof. Dr. Hafsan,  S.Si., M.Pd, dosen Biologi Fakultas Sains Dan Teknologi UIN Alauddin Makassar, menegaskan bahwa ekoenzim tidak dapat menggantikan sistem pengelolaan sampah skala besar.

“Ekoenzim bekerja karena sifatnya yang asam, dengan pH sekitar 3 – 4, sehingga dapat menekan aktivitas bakteri pembusuk penghasil gas berbau seperti amonia dan hidrogen sulfida,” ujarnya saat diwawancarai via WhatsApp pada Selasa, (25/11/2025)

“Namun, ini efektif pada skala kecil rumah tanggaatau komunitas. Untuk TPA sebesar Antang, dampaknya hanya di permukaan,” lanjutnya
Menurut Hafsan, air lindi di TPA mengandung campuran kompleks senyawa organik dan kimia, termasuk BOD dan COD tinggi, amonia, serta potensi logam berat.
 “Ekoenzim mungkin menurunkan bau dan BOD di lapisan atas, tetapi tidak cukup kuat untuk memurnikan lindi atau menangani pencemaran jangka panjang,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa kondisi TPA Antang sendiri dinilai telah memasuki fase kritis. Selain bau, peningkatan populasi lalat dan tikus berpotensi menimbulkan masalah kesehatan. Risiko kebakaran juga meningkat, terutama saat musim kemarau, ketika gas metana terakumulasi di dalam timbunan sampah.

Para ahli dan warga sepakat bahwa persoalan TPA Antang tidak dapat diselesaikan hanya dengan intervensi di hilir. Pengurangan sampah dari sumbernya melalui pemilahan sampah rumah tangga, penguatan bank sampah, dan pengolahan sampah organik di tingkat komunitas dinilai menjadi langkah paling esensial untuk memecahkan masalah.

“Kalau masyarakat terbiasa mengolah sampah organiknya sendiri, beban TPA akan berkurang signifikan. Ekoenzim seharusnya diposisikan sebagai bagian dari perubahan perilaku, bukan solusi tunggal,” ujar Hafsan

Tanpa perubahan sistemik, TPA Antang diperkirakan akan terus menjadi sumber tekanan ekologis bagi Kota Makassar. Ekoenzim mungkin meredam bau untuk sementara, tetapi krisis sampah menuntut kebijakan pengelolaan yang lebih menyeluruh dan berkelanjutan.

Para pemerhati lingkungan menekankan bahwa persoalan TPA Antang tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan teknis di hilir. Pengurangan sampah dari hulu melalui pemilahan di rumah tangga, penguatan bank sampah, serta edukasi dan pendampingan berkelanjutan dinilai menjadi kunci untuk menekan beban TPA dan dampak ekologisnya di masa depan.
(St. Mardiah Rezky Andini)

Baca juga

Marak Oknum Mengaku Wartawan, IWO Sulsel Minta Masyarakat Lebih Teliti

22 Juni 2026 - 22:05 WITA

Dema FUF UIN Alauddin Kritik GAPEMBI: MBG Harus  Utamakan  Kepentingan Publik , Bukan  Keuntungan

21 Juni 2026 - 19:18 WITA

28 Ekor Sapi Dikurbankan Brimob Tiromanda, Apresiasi Mengalir dari Warga Bua

27 Mei 2026 - 17:16 WITA

MDA Tebar 34 Ekor Sapi Kurban, Libatkan Peternak dan Koperasi Lokal

26 Mei 2026 - 14:18 WITA

Kilau Prestasi dari Bontocani: Dosen UNCAPI Raih Doktor di Unhas dalam 2 Tahun 4 Bulan, Publikasikan 11 Jurnal dan 2 Buku

25 Mei 2026 - 19:17 WITA

Trending di Sosial