MAKASSAR,-TEROPONGSULSELJAYA.com,- Ketika pemuda saat itu tepatnya tanggal 28 oktober 1928 menyatakan tekadnya bahwa kita bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu yaitu indonesia. Sifat permordial kemudian ditinggalkan melebur dalam keberagaman sebagai tombak kekuatan untuk keluar dari jeratan feodalisme, kolonialisme dan impreliasme.
Pemuda saat itu bergandengan tangan, bahu membahu, mereduksi egoisme dan menumbuhkan spirit intelektual. Serta tumbuhnya kesadaran kolektif membawa bangsa ini menjadi bangsa yang kuat.
Sumpah pemuda adalah simbol persatuan anak bangsa dari Sabang sampai Maroke tanpa memandang asal suku, agama, budaya dan bahasa. Bahwa kita mengalami nasib yang sama yaitu penjajahan, olehnya itu kita harus keluar dari jeratan penindasan menuju bangsa yang berdaulat baik secara ekonomi, politik dan budaya. Kita menjadi bangsa yang mandiri, mengelola sumber daya alam kita yang melimpah untuk kemakmuran dan kesehjatraan rakyat.

Perjalan dari fase ke fase mengantarkan pada perumusan BPUPKI 1 Juni 1945 sebagai lahirnya Pancasila sampai kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari perjuangan pemuda dan setelah indonesia merdeka pancasila menjadi dasar negara Indonesia atas dasar buah pimikiran pemuda (Muhammad Yamin, Soepomo, Soekarno, Hatta, Achmad Soebardjo, Wachid Hasyim, Abdul Kahar Muzakir, Abikoesno Tjokrosoejoso, Tan Malaka, Jendral Sudirman, ki Bagus Hadikusumo, Syahrir, Hasyim Asyari dan Ahmad Dahlan dan lain).
Pemuda memiliki jiwa yang selalu memberontak dan pikirannya selalu menemukan jalan alternatif untuk pembaharuan sosial serta gerakan moral yang mereka bangun adalah jalan penyelamatan.
Menurut Anas Urbaningrum dalam bukunya Janji Kebangsaan Kita bahwa mereka yang berjuang untuk bangsa ini tidak pernah merencanakan dirinya untuk menjadi seorang Pahlawan. Tapi semua atas dasar kesadaran yang mengorbankan dirinya demi bangsa yang merdeka.
Tantangan bagi generasi kita hari ini agar mengambil pelajaran dari sebuah peristiwa bangsa kita dimasa lalu yaitu sumpah pemuda. Menghilangkan ego lembaga, ego agama, ego kesukuan agar kita menjadi bangsa dan negara yang kuat.
Hari ini kita diperhadapkan dengan Covid-19 adalah virus yang dapat menjarah siapapun tanpa memandang dia dari kalangan mana. Masyarakat menjadi cemas disinformasi yang beredar dimasyarakat tidak memberikan pencerahan. Kurangnya kesadaran akan memperpanjang Covid-19.
Ditengah Mewabanya Covid-19, masyarakat dikagetkan dengan pengesahaan RUUD Omnibuslaw oleh DPR RI yang dipimpin langsung oleh Puan Maharani.
Berbagai polemik yang bermunculan, mudahnya Invesatasi yang masuk akan membabat habis kekayaan Alam kita yang sudah tidak perawan lagi. Efeknya adalah mempercepat kehacuran alam kita, karena tidak ada lagi daya serapan air ketika musim hujan tiba atau bahkan mempercepat menipisnya lapisan ozoom. Belum lagi Masuknya buruk kerja asing yang hanya akan memperpanjang banyak pengangguran dinegeri ini.
Demokrasi kita adalah demokrasi yang kebablasan. Karena bukan suara dan tangisan rakyat yang didengar tapi suara oligarki yang menjadi penentu. Hal ini dapat kita lihat di lingkaran kekuatan gerakan mahasiswa dan kaum buruh sampai hari ini masih memperjuangkan agar RUU Cipta Kerja di hentiakn atau dikeluarkan PERPU karena hanya menguntungkan pihak oligarki dan kebijakan diputuskan dalam keadaan tergesah-gesah pada Covid-19.
Dalam bidang hukum masih tebang pilih. Siapa yang kuat dan punya finansial itulah yang menjadi pemenang, yang benar hanya fersi penguasa. Ketika bersebrangan maka akan dituduh makar dan lain sebagianya. UUD ITE menjadi senjata anpuh untuk membungkam siapa yang kritis.
Tanah adat yang dijamin oleh UU akan dibabat habis atas kepentingan investasi. Terkadang rakyat diperhadapkan dengan aparat yang sejatinya sebagai pelindung, pelayan dan pengayom masyarakat.
Pendidikan kita yang elitis akan memperpanjang kesenjangan yang pintar semakin pintar dan yang biasa akan biasa-biasa aja. Olehnya itu Cak Nur menawarkan Pemerataan beban agar semua bisa mendapatkan pendidikan yang layak.
Sudah saatnya pemuda bersatu membangun negeri kita agar keluar kungkungan kekuasaan oligarki. Ketika pemuda pada tahun 1928 berhasil melawan imprealisme maka kita saat ini harusnya lebih progres untuk mengutuhkan bangsa kita tetap terjaga dari kotor tangan investasi asing.
“Jika bangsa ini sudah berjanji untuk menjadi bangsa yang merdeka maka tugas kita adalah menjaga janji itu” Anas Urbaningrum dalam bukunya Janji Kebangsaan kita.
Reporter: dyroen






