Menu

Mode Gelap
Bupati Luwu dan BPS Sulsel Bahas Sensus Ekonomi 2026, Siap Perkuat Data Daerah Kementerian ATR/BPN dan KPK Perkuat Sinergi dengan Pemerintah Daerah, Dorong Implementasi 9 Program Strategis Pertanahan Kolaborasi MDA dan Indika Foundation Dorong Pengembangan Potensi Generasi Muda Luwu Dinkes Luwu Bergerak Cepat, dr. Rosnawary Ungkap Langkah Nyata Menuju Wistara Paripurna 2027 Dari Akar Desa ke Panggung Nasional, Luwu Mantapkan Langkah Menuju Sehat Paripurna Bupati Patahudding Gaungkan Luwu Sehat 2027, Targetkan Swasti Saba Wistara Paripurna

Opini

MANUSIA DAN TRAGEDI: Menyoal Defenisi dan Nalar Ke-bencana-an

badge-check


					MANUSIA  DAN  TRAGEDI: Menyoal Defenisi dan Nalar Ke-bencana-an Perbesar

MAKASSAR,- TEROPONGSULSELJAYA.Com,- Sungguh! dibalik tragedi kemanusiaan dan siklus alam pada pola sistem alamiah, manusia terkadang terjebak sentrisme-kemanusiaannya yang egoistik daripada eksistensi sistem kealamiaan yang teratur. Baca : bencana, merupakan terminologi sempit perspektif pikiran manusia yang menafikan bahwa manusia produk dari alam.

Bencana alam, entah pola atau siklus cuaca (badai dan banjir), gempa bumi dan tsunami, bahkan kekeringan, wabah penyakit, semuanya terjebak pada defenisi sosial yang sempit. Defenisi bencana alam perspektif sosial adalah ; terjadinya peristiwa tragik kemanusiaan yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian material.

Dibalik tragedi kontradiksi manusia dan alam, manusia sungguh menafikan bahwa ; alam, tidak berkorelasi petaka. Bagi alam, tidak mengenal terminologi “bencana” dalam tata siklus sesuai hukum alamiah dan ilmiah. Gejolak alam, entah badai, banjir, gempa dan tsunami, kekeringan, mendefenisikan ; alam dalam menyeimbangkan dirinya atau alam menyembuhkan dirinya.

Ironisitas yang mewujud pada sarkase manusia dan alam yang berujung tragedi, perlu menjadi kontemplasi-sosial yang amat bias defenitif. Seolah-olah bahwa “alam” sering menjadi terdakwa tunggal ketika terjadi peristiwa alam yang alamiah dalam perspektif terminologi bencana!

Ketika alam bergejolak, bencana ala bahasa manusia, kita secara naluriah tentu bersedih dengan melihat efek yang ditimbulkannya. Namun, akal kemanusiaan kita juga membisik bahwa, apa yang selama ini kita perbuat terhadap alam? Degradasi hutan, kerusakan dalaman laut, pencemaran laut, polusi udara, wabah penyakit, semuanya merupakan aktifitas dan produk negatifitas manusia.

ALAM DAN NALAR

Perspektif filosofis dan sosial kita pasti sepakat bahwa manusia adalah produk alam dalam defenisi ruang dan waktu. Hal bahwa “bukan kesadaran yang membentuk kondisi, tapi sebaliknya ; kondisilah yang membentuk kesadaran” (GWF Hegel). Ungkapan filosofis inilah yang harus mendulumi pikiran manusia dalam bernalar.

Diskursus sempit tentang dialektika alam, keliru menempatkan manusia berkontradiksi dengan alam. Inilah kekeliruan yang mendasar atas cara berpikir yang anthropo-sentrik. Alam hanya berkontradiksi dengan gejala-gejala kosmiknya. Sedangkan manusia berkontradiksi atas egonya. Jadi magna “bencana” adalah manusia yang berkontradiksi dengan keinginan lebihnya.

Keselarasan ruang, waktu, kosmik, galaksi, planetik, atmosfera, biosfera, ekologik, lingkungan hingga species, tertata dan terfusif eksistensial dalam ke-kekal-an energi tak terbatas. Inilah kesadaran an-sich alam atas dirinya sendiri. Pada konteks inilah manusia gagal dalam memahami esensi bekerjanya alam semesta.

Vonis terhadap alam atas tragedi kebencanaan sungguh merupakan penyakit akut egoitik nalar. Kompleksitas alam yang sistematik merupakan mesin kosmologik yang tertata oleh hukum kosmik. Arifnya, bahwa manusia terjebak pada kemunafikan akal atas sentrisme “ketidak-tau-dirian” nalar yang terbatas.

IDEOLOGI LINGKUNGAN

Secara klasik, kerusakan lingkungan masih terkungkung pada interpretasi pertarungan klasik antara adanya sistem sosial dan ekonomi ; “kapitalisme versus sosialisme/komunisme”. Dimana doktrin konfliknya ; kapitalisme ditengarai sebagai penyebab kerusakan lingkungan (baca : alam) melalui industrialisasi yang monopolistik atau keserakahan “nilai lebih” (surplus value).

Disisi lain, sosialisme dianggap sebagai ideologi baru atau agama baru dalam pemenuhan kesetaraan atas sumberdaya alam bagi manusia. Anehnya, pada proses pertarungan kedua ideologi ini, justru keduanya menemui kebuntuan tujuan. Doktrin kemanusiaan untuk kemakmuran umat manusia justru berujung penghancuran sumberdaya alam atau sumber kehidupan (baca : alam)

Terabainya kedua ideologi ini di-era tak terkira-kompleks ini, chaos kegagalan, gaya hidup kapitalistik versus sosialisme idealistik, melahirkan katarse Environmentalisme (lingkunganisme) sebagai ideologi baru umat manusia. Environmentalisme ; menempatkan “alam-isme” sebagai sentrum kesadaran independen (an sich) serta manusia hanya merupakan satu species yang tunduk pada kesetaraan hukum alam atau kosmik.

Seiring warisan kebudayaan arif umat manusia, alam dan manusia adalah ; bahwa alam eksis atas kausalitasnya, sedangkan manusia hanya mewarnainya dengan bahasa. Hal ini dapat memberikan berlian dalam bernalar, berpikir, bertindak berdasarkan kearifan akal yang luruh dan tunduk pada hukum alam. Akhirnya magna bencana tidak menjadi egoisme bagi manusia tapi refleksi manusia terhadap alam. “Berdialoglah dengan alam, dengan memahami hukum-hukumnya”. (Opisti)

Reporter: Dyroen

Baca juga

Gigi Berlubang Tak Boleh Diabaikan: Risiko Penyebaran Infeksi dan Demam Tinggi

3 Januari 2026 - 21:22 WITA

Harga Gabah Anjlok di Kecamatan Bua: Petani Dipaksa Merugi, Bulog Menghilang Ketika Dibutuhkan

18 November 2025 - 07:26 WITA

Mendidik dalam Bayang Kekuasaan: Mengapa Rakyat Cerdas Sering Dianggap Ancaman”

23 Oktober 2025 - 12:03 WITA

KOLABORASI YANG MENGHIDUPKAN: CERITA RELIMA DAN PERPUSTAKAAN DI BULUKUMBA

13 Oktober 2025 - 00:15 WITA

Di Bawah Kabel Tegangan Tinggi, Negara Diam — Rakyat Dibiarkan Hidup Dalam Ketakutan

11 Oktober 2025 - 10:48 WITA

Trending di Opini