Menu

Mode Gelap
Bapanas Bersama Pemkab dan Polres Luwu Sidak Harga dan Mutu Pangan di Pasar Belopa Jelang Idul Fitri 1447 H MDA Gelar Media Iftar , Pererat Silaturahmi dengan Insan Pers Dorong Pemekaran Luwu Tengah, Kepala Daerah Luwu Raya Sampaikan Aspirasi ke Ketua Komisi II DPR RI Penganugerahan Pemenang Kompetisi KRISTAL 2026, Apresiasi atas Gagasan Inovasi dalam Pelayanan Pertanahan Dukung Ketahanan Pangan, Pemerintah Akan Tetapkan Lahan Sawah yang Dilindungi di 12 Provinsi Sosialisasi Regulasi tentang Organisasi dan Tata Kerja, Sekjen ATR/BPN Tekankan Empat Pesan Strategis

Opini

Gambaran Sosok Dajjal menurut (pendapat *) Ulama, Cendekia Verus menurut Al Mubasyirat

badge-check


					Gambaran Sosok Dajjal menurut (pendapat *) Ulama, Cendekia Verus  menurut Al Mubasyirat Perbesar

OPINI,-TEROPONGSULSELJAYA.Com- Kisah Sahabat Nabi Bertemu Al Jassasah dan Dajjal Tamim tengah melakukan perjalanan pada suatu pulau. Di tengah perjalanan, Tamim melihat hewan aneh yang menyebut dirinya sebagai mata-mata bernama Al Jassasah.

Setelahnya, mereka bertemu makhluk yang berbulu lebat hingga tidak dapat dibedakan antara bagian depan dan belakang. Mereka pun bertanya, “Siapakah kamu ini hai makhluk berbulu?”

Makhluk berbulu itu menjawab, “Aku adalah Al Jassasah.”

Mereka bertanya lagi, “Apakah Jassasah itu?”

Bukannya menjawab, makhluk itu berkata, “Hai sekalian manusia, pergilah kalian kepada seorang laki-laki di suatu biara, karena ia sangat mengharapkan berita dari kalian.”

Setelah mendengar itu, rombongan mereka langsung pergi meninggalkan tempat tersebut karena mengira makhluk aneh itu adalah setan. Hingga akhirnya mereka masuk ke dalam pulau tersebut.

Tiba-tiba, mereka bertemu dengan seseorang yang sangat besar di suatu biara. Diakui oleh Tamim sendiri, ia belum pernah melihat orang yang sebesar dan sekekar itu. Makhluk inilah yang mengaku dirinya Dajjal.

Kedua tangan orang tersebut terbelenggu pada lehernya dan kedua kakinya dirantai dengan besi antara kedua lutut hingga kedua mata kakinya. Rombongan Tamim pun bertanya, “Siapakah kamu ini?”

Makhluk itu menjawab, “Bukankah kalian telah memperoleh sedikit informasi tentang diriku, maka sekarang beritahukanlah kepadaku siapakah kalian sebenarnya?”

Tamim dan kawanannya menjawab, “Kami adalah orang-orang yang berasal dari Arab. Kami berlayar mengarungi laut dengan menggunakan perahu. Kemudian kami terbawa ke tengah laut pada saat gelombang laut mulai membesar.”

Mereka pun menceritakan pertemuan dengan hewan aneh tersebut pada si makhluk raksasa.

Laki-laki di biara itu kemudian bertanya pada mereka, “Hai rombongan pengendara perahu, beritahukanlah kepadaku tentang kebun kurma Baisan?”

Dijawab oleh rombongan Tamim bertanya, “Tentang hal apakah yang akan kamu tanyakan kepada kami?”

Laki-laki itu menjawab, “Aku bertanya tentang pohon kurma kepada kalian, apakah ia telah berbuah?”

Kami menjawab, “Ya. Pohon kurma itu telah berbuah.” Laki-laki itu justru berkata bahwa pohon kurma tersebut sebentar lagi tidak akan berbuah. Ia lalu bertanya lagi, “Beritahukanlah kepadaku tentang telaga Thabariyyah?”

Rombongan Tamim balik bertanya, “Apakah yang akan kamu tanyakan kepada kami?”

Laki-laki itu berkata, “Apakah telaga tersebut ada airnya?”

Dijelaskan pada laki-laki biara tersebut bahwa air telaga ada sangat banyak. Namun, sang laki-laki kembali berkata bahwa air telaga itu akan habis.

Kemudian laki-laki itu bertanya lagi, “Beritahukanlah kepadaku tentang seorang nabi utusan Allah yang ummi, apa yang telah ia lakukan?”

Rombongan Tamim menjawab, “Nabi tersebut telah keluar dari kota Makkah dan menetap di kota Yatsrib (Madinah).”

Laki-laki itu bertanya lagi, “Apakah nabi itu dimusuhi oleh orang Arab?” Dan kemudian dijawab dengan, “Ya, ia selalu dimusuhi orang Arab.”

Laki-laki itu terus bertanya, “Bagaimana upaya nabi tersebut dalam menghadapi mereka?”

Kemudian dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW yang dimaksud tersebut telah berhasil dalam menyebarkan dakwahnya. Hingga lelaki biara itu menjawabnya dengan panjang lebar sembari menjelaskan siapa dirinya. Hal ini pun menjelaskan mengapa ia mengetahui tentang masa yang akan datang.

“Sungguh lebih baik apabila orang Arab itu mematuhinya. Sekarang, baiklah aku akan memberitahukan kepada kalian tentang diriku! Sesungguhnya aku ini adalah al Masih Dajjal dan sebentar lagi aku telah diizinkan untuk keluar. Setelah itu, aku akan menjelajahi dunia hingga tidak ada satu kampung pun yang tidak aku singgahi dalam jangka waktu empat puluh malam, kecuali kota Makkah dan Thaybah (Madinah).

Hadis al Jassasah Tamim Ad Dari menjadi fenomena, sampai-sampai ketika itu Nabi memerintahkan Bilal mengumandangkan azan untuk mengumpulkan masyarakat agar mendengarkan cerita Tamim Ad Dari. Bagaimana pemahaman kita tentang Jassasah dan Tamim Ad Dari di antara “pendapat” ulama yang telah mengakar lama bila dibandingkan dengan ilmu pengatahuan serta al mubasyirat? Semoga saja menjadi khasanah pengetahuan yang lain dalam membuka diskusi yang baik, beberapa temuan-temuan kasus yang terjadi di masyarakat.

Fitnah Dajjal
Sosok Dajjal adalah seorang manusia yang menjadi inti fitnah sepanjang kehidupan manusia, sosok Dajjal ini akan dimumculkan Allah SWT pada penghujung akhir zaman sebagai salah satu tanda dari beberapa tanda bersama kemunculan al mahdi AS, Nabi Isa AS dan Yakjuz dan Makjuz.

Para ulama berbeda-beda padangan terkait sosok Dajjal tersebut karena dua hadis Jassasah dan hadis Ibnu Sayyad yang tersebrangan
Pada saat bersaman di Dajjal dirantai, tapi Ibnu Sayyad sebagai Dajjal ada di Madinah. Hadis ini telah menjadi dasar ahli hadis dalam memberikan pendapat tentang sosok Dajjal.

Pemahaman cerita Tarim Ad Dari, maka bebarapa pendapat menyakini bahwa Dajjal adalah manusia yang ditakdirkan hidup berabad-abad lamanya, dan setiap zaman akan berubah dirinya sampai di penghujung zaman sesuai kemunculan sosok aslinya. Beberapa pendapat dari para ahli, cendekia juga demikian termasuk para pemerhati akhir zaman. Mulai dikaitkan dengan dengan masa Samiri dan kemudian samirilah yg dianggap Dajjal pertama yang terus hidup setiap zaman, setiap zaman akan merubah sosoknya. Pada jaman Nabi Isa AS, sosok Samiri berubah menjadi Yudas Iskariot sebagai Dajjal, sosok ini kemudian bak hilang ditelan bumi. Cerita Ibnu Sayyad yang dicurigai sebagai Dajjal dan perdebatan antara Umar RA dan Sahabat lainnya.
Keyakinan bahwa Dajjal adalah manusia yang dipanjangkan umurnya selama ini dirantai adalah satu pendapat seolah-olah tidak terbantahkan, tapi dengan hadirnya mubasyirat pendapat ini bisa menjelaskan kronologisnya.

Kondisi masuk pada dimensi (astral) versus fugue anmesia
Beberapa kejadian yang sering menjadi fenomena di masyarakat adalah peristiwa hilang seorang dalam hitungan hari, minggu sampai bulan yang kemudian ditemukan, ia kemudian dapat bercerita pengalamannya berinteraksi dengan komunitas (astral),
Beberapa tahun lalu ada kejadian tukang bakso hilang selama 7 hari di kota Samarinda, setelah ditemukan disatu tempat ia bercerita diajak pembeli nya sosok orang tua memberi nasehat sambil mengajak berjalan (kisah nyata). Beberapa kisah lain juga banyak sering disebut dibawa oleh mahluk halus. Berbeda juga kejadian dalam ilmu psikiatri budaya (bukan astral) yang disebut fugue amnesia seorang bisa menghilang, pergi sendiri tanpa tujuan (hilang) dari keluarganya, tidak bisa mengenali dirinya dan loss memori, kejadian ini bisa berhari, minggu atau berbulan, setelah ditemukan ia tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi saat hilang /loss memori/amnestik.
Dua fenomena ini dapat dijadikan penjelasan, apakah Tarim ad Dari tersebut terjebak dalam alam astral, Jassasah dan pulau tersebut tidak dikenal (apakah pulau Socotra?), atau kemungkinan adalah masuk dalam dimensi astral.
Kejadian ini Tarim Ad Dari dalam kondisi masuk ke dunia astral bertemu sosok Dajjal orangnya besar kekar terkuruang di pulau dan dirantai besi, dan al jassasah, sebagai simbol akhir zaman bukan sosok sebenarnya, yang akan segera tiba, karena bila dianalisis hadis lain pada saat bersamaan pula ada riwayat Ibnu Sayyad, juga tentang kemunculan Dajjal dari arah timur “negeri tanduk setan” (Iran).

Kontradiksi pendapat ulama tentang cerita al Jassasah berkembang menjadi dalil, terlanjur sudah diyakini turun temurun, meskipun masih banyak pertanyaan mendasar yang belum bisa dijawab.

Al Mubasyirat Muhammad Qasim

Nabi SAW bersabda setelah Rasulullah wafat, maka wahyu terputus kecuali al mubasyirat (muslim), apakah al mubasyirat itu, jawab Nabi:” mimpi yang benar dari Allah SWT”
Pemuda Muhammad Qasim telah diguide (pembimbingan) selama hidupnya dengan mimpi-mimpi dari Rasul dan Allah SWT, beberapa peristiwa yang sudah dan akan terjadi diperlihatkan termasuk kejadian kemunculan Dajjal ini. Al Mubasyirat ini bukan narasi, bukan literasi dan atau telaah kitab, tetapi mimpi dari Rabbnya yang dialami saudara Qasim sendiri. Cerita mimpi tentang Dajjal sangat menarik untuk ditelaah karena ada bagian yang sangat berbeda, lebih detail dan sangat kronologis.
Dua cerita saling bertolak belakang antara diutusnya Al Mahdi dan munculnya al masih Dajjal. Satu memberi pesan petunjuk (jauhi syirik) versus dajjal membawa fitnah (kebaikan padahal keburukan).
Al Mahdi hanya diberikan petunjuk taujid, sedangkan
Dajjal itu manusia yang dilahirkan, akan muncul sebagai orang yang suci, kaya, punya kekuatan dan kekayaan luarbiasa sehingga kedatanganya disambut ribuan bahkan jutaan dimana saja ia berada, ia akan mengunjungi kota – kota di dunia ber kampanye kamuflase kebaikan. Ia bernama Abdurrahman, fasih berbahasa Arab karena ia orang Arab seorang muslim dengan segala kemampuan akademik dan agama. Penampilanya bisa berubah-ubah dari baik, sopan, jahat, bengis ia dapat membunuh (sembunyi-sembunyi) bagi siapa saja tidak sependapat. Kelak setelah masanya tiba ia akan mengaku sebagai Tuhan. Ia akan memimpin pasukan yang berhadapan dengan pasukan Al Mahdi. Nabi Isa AS akan membatu al Mahdi membunuh Dajjal di Ilia (pintu Lod).
Dalam mimpi lain Qasim diceritakan; Iblis memanggil Dajjal dengan sebutan “The Richeman Lord” (panglima yang kaya raya).
Menurut al mubasyirat sosok Dajjal bukan manusia yang dipanjangkan umurnya tetapi dilahirkan di Timur Tengah. Tidak seperti Yakjuz dan Makjuz tidak dilahirkan diakhir zaman ini, tapi mereka adalah manusia yang lampau, mereka dikurung/pasung di gua-gua yang tinggi sekali dari Jaman Dzulkarnain. Kelak akan dikeluarkan sesaat setelah kematian Dajjal. Mereka sangat dendam kepada manusia karena manusia lah mereka dipasung.

Allah SWT, telah memberikan petunjuk kepada saudara Qasim, ia tidak menyampaikan dari hawa nafsunya, atau dari buah fikiranya tetapi dari al mubasyirat yang selama ini dialami.

Demikian, semoga pemahaman ini bisa memberikan kekuatan utk menghadapi fitnatul Kubra al masih ad dajjal laknatullah.

Wallahu a’lam.bissawab.

Al fakir.

Baca juga

Gigi Berlubang Tak Boleh Diabaikan: Risiko Penyebaran Infeksi dan Demam Tinggi

3 Januari 2026 - 21:22 WITA

Harga Gabah Anjlok di Kecamatan Bua: Petani Dipaksa Merugi, Bulog Menghilang Ketika Dibutuhkan

18 November 2025 - 07:26 WITA

Mendidik dalam Bayang Kekuasaan: Mengapa Rakyat Cerdas Sering Dianggap Ancaman”

23 Oktober 2025 - 12:03 WITA

KOLABORASI YANG MENGHIDUPKAN: CERITA RELIMA DAN PERPUSTAKAAN DI BULUKUMBA

13 Oktober 2025 - 00:15 WITA

Di Bawah Kabel Tegangan Tinggi, Negara Diam — Rakyat Dibiarkan Hidup Dalam Ketakutan

11 Oktober 2025 - 10:48 WITA

Trending di Opini