KAB LUWU, TEROPONGSULSELJAYA.com,– Nuansa kebersamaan dan kearifan lokal terasa begitu kuat di Dusun Balabatu, Desa Sampa, Kecamatan Bajo, Kabupaten Luwu. Pemerintah desa bersama masyarakat menggelar kegiatan Tudang Sipulung, sebuah tradisi musyawarah yang tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga simbol persatuan dan harapan para petani,Rabu (15 April 2026) .
Kegiatan yang berlangsung penuh kehangatan ini menjadi momentum penting dalam menentukan jadwal masa tanam periode A-SEP (April–September) mendatang. Kepala Desa Sampa, Arfand, Amd.Kep, menegaskan bahwa Tudang Sipulung merupakan warisan budaya yang terus dijaga.
“Tudang Sipulung mempunyai makna musyawarah, dalam hal ini bermusyawarah untuk menetapkan jadwal masa tanam periode A-SEP (April–September) mendatang. Ini adalah tradisi yang kami anggap sebagai warisan dari pemangku adat terdahulu,” ujarnya.

Dalam musyawarah tersebut, disepakati bahwa masa tanam periode A-SEP akan dilaksanakan mulai tanggal 8 hingga 24 Juni dengan sistem tabela.

Lebih dari sekadar forum penentuan jadwal, Tudang Sipulung juga menjadi wujud rasa syukur para petani atas hasil panen yang telah diperoleh. Tradisi ini bahkan kerap dimaknai sebagai pesta panen sekaligus ajang mempererat silaturahmi antarwarga.
“Selain itu, Tudang Sipulung juga merupakan simbol rasa syukur para petani atas hasil panen yang didapatkan, bisa dibilang pesta panen, dan juga sebagai ajang silaturahmi. Kami berharap panen berikutnya diberkahi dan mendapatkan hasil yang melimpah,” tambah Arfand.
Kegiatan ini turut dihadiri berbagai unsur pemerintah dan masyarakat, di antaranya Kepala BPP Kecamatan Bajo, Kepala BPP Kecamatan Kamanre, Camat Bajo, perwakilan Dinas Perikanan, UPTD Pengairan, para kepala desa dari Balla, Jambu, dan Seppong, KUA Bajo, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, ketua kelompok tani se-Desa Sampa, serta masyarakat setempat.
Kehadiran berbagai pihak ini mencerminkan kuatnya sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga tradisi sekaligus mendorong sektor pertanian sebagai tulang punggung ekonomi desa.
Di tengah arus modernisasi, Tudang Sipulung di Desa Sampa menjadi bukti bahwa nilai-nilai kearifan lokal tetap hidup dan mampu menjadi fondasi dalam membangun masa depan yang lebih sejahtera.(pn/Arif)






