Menu

Mode Gelap
10 Santri Ma’had Tahfizhul Qur’an Habiburrahman Luwu Resmi Diwisuda sebagai Hafiz 30 Juz Ketua Dekranasda Luwu Ikuti Jalan Sehat HUT Dekranas ke-46, Perkuat Sinergi UMKM dan Gerakan Hidup Sehat KKP Tinjau Lokasi Kampung Nelayan di Luwu, Bupati Patahudding Pastikan Kesiapan Lahan Wastra Khas Luwu Tampil di Premium Expo HUT Dekranas ke-46, Ketua Dekranasda Hadiri Rangkaian Kegiatan Produk UMKM Luwu Tampil di HUT ke-46 Dekranas, Bupati Tinjau Stand Dekranasda Dewan Pers Tegaskan MoU dengan Polri Utamakan Penyelesaian Sengketa Pers Lewat UU Pers

Budaya

Ritual Sakral Maddoja Roja Warnai HUT ke-67 Luwu, Doa Bersama Mengawali Mappacekke Wanua

badge-check


					Ritual Sakral Maddoja Roja Warnai HUT ke-67 Luwu, Doa Bersama Mengawali Mappacekke Wanua Perbesar

KAB LUWU, TEROPONGSULSELJAYA.com, – Ritual adat Maddoja Roja digelar di Baruga Arung Senga, Jumat malam (3/7/2026), sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-67 Kabupaten Luwu. Prosesi tersebut menjadi tahapan awal dalam pelaksanaan Mappacekke Wanua, tradisi adat masyarakat Tana Luwu yang dilaksanakan untuk memohon keselamatan, kedamaian, dan keberkahan bagi daerah.

Kegiatan dihadiri Wakil Bupati Luwu Muhammad Dhevy Bijak Pawindu, Sekretaris Daerah Kabupaten Luwu Muh. Rudi, Ketua DPRD Kabupaten Luwu Gazali, Kapolres Luwu, Danramil Belopa, Ketua TP PKK Kabupaten Luwu Ny. Hj. Kurniah Patahudding, Ketua Bidang I TP PKK Ny. Nila Sari, Ketua Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Luwu Ny. Rafika Liakat Muh. Rudi, para kepala perangkat daerah, Yang Mulia Macenning Luwu Andi Sitti Husaima, Makole Baebunta Hj. Andi Syarifah Muhaeminah, Maddika Ponrang Andi Saddawero Kira, Maddika Bua Andi Syarifuddin, Patunrung Luwu Andi Saddakayi Arsyad, Direktur Utama PT Masmindo Dwi Arya, para pemangku adat, serta tamu undangan lainnya.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Luwu, Mulianto Taro, menjelaskan bahwa Mappacekke Wanua merupakan ritual adat yang bermakna “mendinginkan negeri”. Tradisi tersebut dilaksanakan sebagai ikhtiar memohon perlindungan, keselamatan, kedamaian, dan keberkahan bagi masyarakat serta daerah.

Ia menjelaskan, rangkaian Mappacekke Wanua diawali dengan prosesi Mallekke Wai, yaitu pengambilan air dari sumber mata air yang disakralkan. Selanjutnya dilaksanakan Maddoja Roja, ritual berjaga semalam yang diisi dengan doa, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dan zikir.

Rangkaian kegiatan akan dilanjutkan pada Sabtu (4/7/2026) melalui prosesi Mangeppi Wai, yaitu pemercikan air sebagai simbol penyucian negeri dan doa keselamatan bagi masyarakat.

Sambutan Bupati Luwu H. Patahudding yang dibacakan Wakil Bupati Muhammad Dhevy Bijak Pawindu menyatakan bahwa Mappacekke Wanua merupakan tradisi yang mengandung makna membersihkan negeri, baik secara lahir maupun batin.

Dalam sambutan tersebut disampaikan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, mempererat hubungan antarmasyarakat, serta memperkuat persatuan.

Pemerintah Kabupaten Luwu juga memandang pelestarian adat dan budaya sebagai bagian dari pembangunan daerah yang berjalan seiring dengan upaya menjaga identitas budaya dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus.

Ritual Maddoja Roja menjadi salah satu agenda budaya dalam rangkaian Hari Jadi ke-67 Kabupaten Luwu yang dilaksanakan bersama pemerintah daerah, pemangku adat, dan masyarakat sebagai bentuk pelestarian tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.(*)

Baca juga

Mallekke Wai HUT Luwu 67 :Air Sumur Arung Senga Diakar, Gadis Belum Balig Usung Ke Baruga

2 Juli 2026 - 14:28 WITA

Pawai Obor Memadati Jalan Belopa Sambut 1 Muharram 1448H

17 Juni 2026 - 00:19 WITA

Harmoni Tradisi dan Harapan: Tudang Sipulung di Desa Sampa Satukan Petani Sambut Musim Tanam

15 April 2026 - 20:27 WITA

Festival Pesisir Desa Raja: Pemuda Pesisir Jadi Garda Depan Menuju Indonesia Emas

18 Agustus 2025 - 10:38 WITA

Penutupan Lomba HUT-RI ke-80 di Desa Temboe Meriah, Jadi Ajang Silaturahmi Warga

17 Agustus 2025 - 19:50 WITA

Trending di Budaya