Menu

Mode Gelap
Bupati Luwu Tinjau Harga dan Fasilitas Pasar Rakyat Cilallang Pastikan Mudik Aman, Kapolres Luwu Turun Langsung Kontrol Pos Operasi Ketupat 2026 Bapanas Bersama Pemkab dan Polres Luwu Sidak Harga dan Mutu Pangan di Pasar Belopa Jelang Idul Fitri 1447 H MDA Gelar Media Iftar , Pererat Silaturahmi dengan Insan Pers Dorong Pemekaran Luwu Tengah, Kepala Daerah Luwu Raya Sampaikan Aspirasi ke Ketua Komisi II DPR RI Penganugerahan Pemenang Kompetisi KRISTAL 2026, Apresiasi atas Gagasan Inovasi dalam Pelayanan Pertanahan

Daerah

Rakyat Bone Dibebani Pajak, Bupati dan Wakil Bupati Menghilang.

badge-check


					Rakyat Bone Dibebani Pajak, Bupati dan Wakil Bupati Menghilang. Perbesar

BONE, TEROPONGSULSELJAYA.com,
– Apa arti jabatan bupati bila rakyat berteriak, pemimpin justru bersembunyi, ribuan warga Bone tumpah ruah ke jalan.
Selasa, (19 Agustus 2025)

Mereka menolak kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB-P2) yang melonjak hingga 300 persen—kebijakan yang hanya bisa lahir dari telinga yang tuli dan hati yang beku.

Di Lapangan Merdeka, suara rakyat bergaung: “Cabut kenaikan PBB!” Bukan sekadar slogan, tapi jeritan hidup yang selama ini diperas atas nama pembangunan.

Konvoi panjang bergerak menuju kantor bupati. Namun sesampainya di sana, rakyat hanya menemukan pagar besi, polisi bersenjata, dan ketiadaan pemimpin.

Bupati Andi Asman Sulaiman dan wakilnya tidak tampak batang hidungnya. Mereka memilih diam, seolah rakyat hanyalah angka dalam daftar pungutan.

Sementara rakyat berpeluh di bawah matahari, pemimpin yang digaji dari keringat mereka justru bersembunyi entah di mana. Apakah jabatan hanya singgasana empuk untuk menikmati pajak, tanpa keberanian menghadapi rakyat?

“Pagar dijebol, chaos, dan rakyat tetap bertahan. Karena yang ditunggu bupati tak kunjung muncul,” ujar Rian, salah satu peserta aksi

Aksi ini bukan spontan. Sejak 15 Agustus, posko perlawanan berdiri, dijaga mahasiswa dan relawan. Logistik datang dari rakyat kecil, kardus berisi air mineral, makanan ringan, terpal lusuh. Bukti bahwa yang menopang perlawanan bukan kekuasaan, melainkan solidaritas sesama yang ditindas.

“Kalau pemerintah keras, rakyat harus lebih keras,” ujar Arfah, Koordinator Aliansi.

Ironi pun mencolok: 1.000 aparat TNI-Polri bersenjata lengkap disiagakan hanya untuk menghadapi rakyat yang menolak diperas. Gas air mata pun ditembakkan, seolah suara rakyat lebih berbahaya dari kejahatan.

Hari itu, rakyat Bone menunjukkan satu hal: mereka tidak lagi percaya pada janji manis. Pajak yang katanya untuk kesejahteraan, justru menjelma cambuk penindasan.

Pertanyaan besar menggantung di udara Bone: Untuk siapa pemerintah bekerja untuk rakyat, atau hanya untuk menambah isi perut penguasa?
***kurty***

Baca juga

Bupati Luwu Tinjau Harga dan Fasilitas Pasar Rakyat Cilallang

16 Maret 2026 - 18:44 WITA

Apresiasi Capaian Jajaran di Bali, Wamen Ossy Tekankan Pentingnya Peningkatan Kualitas Pelayanan dan Data Pertanahan

14 Maret 2026 - 19:26 WITA

Bicarakan Digitalisasi Layanan Pertanahan di Universitas Udayana, Wamen Ossy: Bukan Sekadar Ganti Dokumen Kertas ke Digital

14 Maret 2026 - 19:22 WITA

TP PKK dan DWP Luwu Gelar Amaliah Ramadhan, Berbagi Takjil hingga Buka Puasa Bersama

14 Maret 2026 - 16:22 WITA

Balita yang Sempat Hilang Ditemukan Meninggal di Pengairan Ponrang Selatan

12 Maret 2026 - 12:12 WITA

Trending di Daerah