Menu

Mode Gelap
Bupati Luwu Lantik 16 PNS Formasi 2024, Tugaskan 108 Kepala Sekolah dan Kukuhkan Dewan Pendidikan Pengukuran Terjadwal dengan Waktu yang Pasti Buat Warga Lebih Mudah Menyiapkan Diri Urus Keperluan Pertanahan, Masyarakat Manfaatkan Sentuh Tanahku untuk Akses Informasi dan Layanan Pemdes Cimpu Gelar Musrenbang RKP Desa 2027, Bahas Program Prioritas dan Salurkan Insentif Aparat Keagamaan Sepekan Pascakebakaran, Korban di Desa Temboe Terima Bantuan Dinas Sosial Ditreskrimsus Polda Sulsel dan Polres Luwu Tertibkan Aktivitas PETI di Bajo Barat, Tiga Alat Berat Diamankan

Sosial

Kisah Haru Fitrah, Remaja SMA di Luwu yang Berjualan Makanan di Pasar Batusitanduk Demi Sekolah dan Ibu Tercinta

badge-check


					Kisah Haru Fitrah, Remaja SMA di Luwu yang Berjualan Makanan di Pasar Batusitanduk Demi Sekolah dan Ibu Tercinta Perbesar

KAB. LUWU, TEROPONGSULSELJAYA.com — Di tengah hiruk-pikuk Pasar Batusitanduk, Kecamatan Walenrang, Kabupaten Luwu, tampak seorang remaja berseragam sekolah berjalan menyusuri lorong pasar dengan langkah sederhana namun penuh semangat. Di tangannya tergenggam sebuah kotak putih berisi makanan yang dijajakan dari satu pedagang ke pedagang lain.
Suaranya lembut, sesekali ia tersenyum ketika disapa pembeli.
Rabu,(22/10/25).

Dialah Muh. Syawal Alfitrah SP, akrab disapa Fitrah atau Citok, pelajar SMA Negeri 2 Luwu yang kini viral di media sosial berkat kisah perjuangannya membantu sang ibu.

Sejak kecil, Fitrah sudah ditempa oleh keadaan. Ayahnya meninggalkan keluarga tanpa kabar saat ia baru berusia tiga tahun. Sejak itu, sang ibu, Evhi, berjuang seorang diri membesarkan anak semata wayangnya.

“Dari kecil dia sudah terbiasa lihat saya kerja banting tulang. Katanya, kasihan lihat mamanya kerja terus siang malam. Makanya dia bantu jualan biar bisa bantu kebutuhan sekolah dan sehari-hari,” tutur Evhi lirih saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Meski masih duduk di bangku SMA, Fitrah sudah memahami arti tanggung jawab dan pengorbanan. Sebelum berangkat ke sekolah, ia kerap lebih dulu ke pasar membawa kotak jualannya, menawarkan makanan kepada para pedagang yang kini sudah akrab dengannya.

“Anak itu luar biasa sopan. Datang sambil senyum, tidak pernah memaksa. Kadang kalau jualannya belum habis, kami bantu beli,” ungkap salah seorang pedagang.

“Saya sering lihat dia keliling, masih pakai seragam sekolah. Waktu saya tanya kenapa tidak malu, dia bilang, ‘saya bantu mama saya, biar bisa lanjut sekolah’. Saya langsung terharu dengarnya,” tambah pedagang lainnya.

Fitrah tak pernah mengeluh meski harus membagi waktu antara belajar dan berjualan. Ia tetap bersemangat menuntut ilmu dengan mimpi sederhana — ingin sukses agar bisa membahagiakan ibunya dan memiliki rumah sendiri.

“Dia pernah bilang, kalau nanti sudah kerja, dia mau carikan ayahnya biar ayahnya bangga sama dia. Dia juga mau punya rumah supaya kami tidak menumpang lagi,” ucap sang ibu dengan mata berkaca-kaca.

Evhi juga menceritakan perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan membesarkan Fitrah seorang diri.

“Dari bayi saya besarkan sendiri sampai dia berumur 13 tahun. Karena anakku butuh sosok seorang ayah — dulu setiap saat dia tanya ke mana ayahnya, kenapa tidak pernah datang. Tapi bukan cuma karena alasan itu saya menikah lagi. Saya pikir, biar ada yang menafkahi kami, karena sejak dari bayi ayahnya tidak pernah menafkahinya,” tutur Evhi penuh haru.

Kini, kisah Fitrah menyentuh hati banyak orang di Luwu. Di tengah keterbatasan, ia menjadi teladan tentang arti keteguhan, kasih, dan kerja keras.
Harapan Fitrah sederhana: tetap bisa bersekolah, membantu ibunya, dan suatu hari nanti melihat keduanya hidup tanpa kesusahan.

Dan mungkin, dari lorong-lorong sempit Pasar Batusitanduk, kisah kecil ini mengajarkan kita bahwa cinta seorang anak kepada ibunya bisa lebih besar dari segala keterbatasan hidup.
***kurty***

Baca juga

Marak Oknum Mengaku Wartawan, IWO Sulsel Minta Masyarakat Lebih Teliti

22 Juni 2026 - 22:05 WITA

Dema FUF UIN Alauddin Kritik GAPEMBI: MBG Harus  Utamakan  Kepentingan Publik , Bukan  Keuntungan

21 Juni 2026 - 19:18 WITA

28 Ekor Sapi Dikurbankan Brimob Tiromanda, Apresiasi Mengalir dari Warga Bua

27 Mei 2026 - 17:16 WITA

MDA Tebar 34 Ekor Sapi Kurban, Libatkan Peternak dan Koperasi Lokal

26 Mei 2026 - 14:18 WITA

Kilau Prestasi dari Bontocani: Dosen UNCAPI Raih Doktor di Unhas dalam 2 Tahun 4 Bulan, Publikasikan 11 Jurnal dan 2 Buku

25 Mei 2026 - 19:17 WITA

Trending di Sosial