Menu ✖

Mode Gelap
DPRD Luwu Bahas Dua Ranperda, Pemkab Tegaskan Tata Kelola Perseroda Harus Transparan Sumpah Pemuda ke-98, Bupati Luwu Tekankan Patriotisme, Kegigihan, dan Kepedulian Sosial Keluhan Tim Damkar Luwu Direspons Bupati, Bantuan Peralatan dan Layanan Kesehatan Mengalir Perseroda Luwu Cemerlang Disiapkan Garap Bisnis BBM hingga Jasa, Dua Ranperda Diajukan ke DPRD Pemkab Luwu Evaluasi Kerja Sama BPJS Kesehatan, Sekda Soroti Tindak Lanjut Masalah Layanan SABUNG AYAM DI BELOPA DIDUGA BERLANGSUNG TIGA HARI, TARUHAN PULUHAN JUTA DAN JUDI DADU JADI SOROTAN

Hukum

“Ketika IGD Jadi Ring Tinju: Oknum Kades Pukul Warga, Nyawa Melayang, Hukum Menunggu.

badge-check


					“Ketika IGD Jadi Ring Tinju: Oknum Kades Pukul Warga, Nyawa Melayang, Hukum Menunggu. Perbesar

KAB LUWU, TEROPONGSULSELJAYA.com, – Kematian tragis Rifqillah Ruslan (15) yang dianiaya saat terbaring lemah di IGD RS Batara Guru Belopa kini memasuki babak baru, dengan satu nama resmi menyandang status tersangka: Irwan Sultan, Kepala Desa Seppong.

Kasat Reskrim Polres Luwu, AKP Jody Dharma, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menetapkan Irwan Sultan sebagai tersangka. “Rabu (13/08) kami akan kembali memanggilnya sebagai tersangka atas kematian korban,” ujar Jody, Senin (11/08/2025).

Tak hanya itu, kepolisian juga akan mengirimkan rekomendasi pemberhentian Irwan Sultan ke Pemkab Luwu melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa—sebuah langkah yang seharusnya menjadi refleksi serius atas moral dan kelayakan seorang pejabat publik.

Tragedi ini bermula ketika Rifqillah terlibat kecelakaan lalu lintas dengan Irwan Sultan yang berboncengan dengan anaknya. Ironisnya, di ruang gawat darurat—tempat yang seharusnya menjadi simbol perlindungan nyawa—Irwan justru melampiaskan amarahnya dengan memukul Rifqillah yang tengah dirawat, hanya karena anaknya dalam kondisi tak sadarkan diri.

Usai dipukul, Rifqillah sempat mengeluhkan rasa sakit hebat di kepala dan punggung kepada ibunya. Dua hari kemudian, ia meninggal dunia. Autopsi yang dilakukan Tim Forensik Polda Sulsel pada 2 Juni 2025 memastikan penyebab kematian sejalan dengan penganiayaan yang terjadi di IGD tersebut.

Pertanyaannya, sampai kapan kekuasaan desa menjadi tameng untuk menutupi kekerasan yang merenggut nyawa seorang remaja? Dan mengapa tindakan barbar ini bisa terjadi di hadapan tenaga medis tanpa segera dihentikan?
***Red/kurty)***

Baca juga

SABUNG AYAM DI BELOPA DIDUGA BERLANGSUNG TIGA HARI, TARUHAN PULUHAN JUTA DAN JUDI DADU JADI SOROTAN

25 Oktober 2026 - 21:04 WITA

PETI Salutarra Kembali Menggila! Kades POSI Bersuara, Dugaan Oknum Berinisial “MS” Tantang Nyali APH

20 Oktober 2026 - 22:42 WITA

PETI Bajo Barat Kembali Beroperasi, Nama Wahyu Cs Mencuat di Tengah Sorotan Penegakan Hukum

14 Oktober 2026 - 05:31 WITA

Ditreskrimsus Polda Sulsel dan Polres Luwu Tertibkan Aktivitas PETI di Bajo Barat, Tiga Alat Berat Diamankan

1 September 2026 - 19:38 WITA

Kecelakaan Maut di Jalur Trans Sulawesi Luwu, Pengendara Motor Dilaporkan Meninggal Dunia

1 Agustus 2026 - 23:20 WITA

Trending di Hukum