Menu

Mode Gelap
Tak Ingin Anak Luwu Tumbuh Terhambat, Bupati Ajak Warga Jadi “Orang Tua Asuh” Lawan Stunting Air Mata Harapan di Balik Duka: Bupati Luwu Serahkan Santunan Rp223,5 Juta untuk Keluarga Nelayan Bone Pute Bupati Luwu dan BPS Sulsel Bahas Sensus Ekonomi 2026, Siap Perkuat Data Daerah Kementerian ATR/BPN dan KPK Perkuat Sinergi dengan Pemerintah Daerah, Dorong Implementasi 9 Program Strategis Pertanahan Kolaborasi MDA dan Indika Foundation Dorong Pengembangan Potensi Generasi Muda Luwu Dinkes Luwu Bergerak Cepat, dr. Rosnawary Ungkap Langkah Nyata Menuju Wistara Paripurna 2027

Opini

Di Bawah Kabel Tegangan Tinggi, Negara Diam — Rakyat Dibiarkan Hidup Dalam Ketakutan

badge-check


					Di Bawah Kabel Tegangan Tinggi, Negara Diam — Rakyat Dibiarkan Hidup Dalam Ketakutan Perbesar

KAB LUWU, TEROPONGSULSELJAYA.com, – Di Dusun Pappokok, Desa Tabah, Kecamatan Walenrang Timur, suara rakyat kecil kembali tenggelam di antara dengung kabel tegangan tinggi. Di atas atap rumah mereka, kabel berisi ribuan volt menggantung seolah menantang maut. Di bawahnya, warga hidup dengan rasa was-was setiap hari menunggu siapa yang akan jadi korban pertama.
Sabtu, (11/10/25).

“Sejak adanya kabel tersebut, rasa was-was selalu menghantui,” kata seorang warga. Kalimat sederhana itu adalah jeritan nyata dari masyarakat yang sudah terlalu sering diabaikan.

Bagaimana mungkin jaringan listrik bertegangan tinggi dipasang tepat di atas permukiman tanpa mempertimbangkan jarak aman? Di mana standar keselamatan yang dijanjikan PLN? Di mana fungsi pengawasan pemerintah daerah? Mengapa ketika keselamatan rakyat dipertaruhkan, semua pihak justru bungkam?

Inilah wajah telanjang dari kelalaian sistemik. Proyek dijalankan, anggaran digelontorkan, tapi pengawasan nihil. Keselamatan publik diremehkan, seolah hidup rakyat di pedesaan tak lebih berharga dari tiang dan kabel yang mereka bangun.

Pemerintah dan PLN seakan baru bergerak kalau sudah ada korban. Padahal, ancaman sudah tampak jelas di depan mata. Jika satu percikan arus saja jatuh ke atap rumah, tragedi bisa terjadi kapan saja. Apakah kita harus menunggu berita duka baru kebijakan muncul?

Negara yang membiarkan rakyatnya hidup di bawah kabel maut adalah negara yang kehilangan nurani. PLN harus bertanggung jawab penuh, bukan hanya dengan klarifikasi kosong, tapi dengan tindakan nyata: ubah jalur, naikkan tiang, dan pastikan keselamatan warga terjamin.

Warga Pappokok tidak minta banyak. Mereka hanya ingin hidup tenang, tidak dibayang-bayangi maut setiap kali menatap langit rumah mereka.

Jika suara mereka masih tak didengar, maka jelas yang tinggi bukan hanya kabel listrik, tapi juga kesombongan birokrasi yang menggantung di atas penderitaan rakyat.
***kurty***

Baca juga

Gigi Berlubang Tak Boleh Diabaikan: Risiko Penyebaran Infeksi dan Demam Tinggi

3 Januari 2026 - 21:22 WITA

Harga Gabah Anjlok di Kecamatan Bua: Petani Dipaksa Merugi, Bulog Menghilang Ketika Dibutuhkan

18 November 2025 - 07:26 WITA

Mendidik dalam Bayang Kekuasaan: Mengapa Rakyat Cerdas Sering Dianggap Ancaman”

23 Oktober 2025 - 12:03 WITA

KOLABORASI YANG MENGHIDUPKAN: CERITA RELIMA DAN PERPUSTAKAAN DI BULUKUMBA

13 Oktober 2025 - 00:15 WITA

Liefta Afrilia Putri Mahasiswi dan Aktivis di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir Gelar Diskusi: Perkuat Konsolidasi Diaspora dan Mahasiswa Indonesia di Mesir

17 September 2025 - 08:23 WITA

Trending di Opini