Oleh: Ryan Saputra
OPINI, -TEROPONGSULSELJAYA.Com- Momen yang menjadi alasan untuk terpinangnya buku ini adalah ketika sang penulis bercuit di beranda facebooknya pada tanggal 12 Maret 2024. Saat itu, Prof. Wahyuddin Halim mengunggah sebuah tulisan yang berjudul “Selamat Kedatangan Ramadhan” (1). Dengan angka satu yang diapit oleh dua tanda kurung, pribadi bisa menerka bahwa beranda Prof akan ramai bersiul di bulan suci ini. Hingga hari ini, jebolan salah satu universitas terbaik di Amerika Serikat ini masih istiqomah dalam memperluas tulisan-tulisannya yang telah dirangkum di buku “Taat Ritual, Tuna Sosial”. Dengan gaya tulisan yang khas etnografi-sufistik, kaya referensi-perluasaan, dan sedikit humor-sarkas, akan membuat pembaca semakin “plong” dalam mencicipinya.
Dalam tulisan pertamanya itu, penulis memperkarakan sebuah ucapan “Selamat Kedatangan Ramadhan” yang berbeda nuansa dengan “Selamat Datang Ramadhan” atau yang lebih akrab kita kenal dengan Marhaban Yaa Ramadhan. Ucapan terakhir ini lebih mengarah kepada makna yang jika digemakan oleh mereka yang telah memiliki kesiapan dan kelapangan spiritual menyambut Ramadhan. Sedangkan yang pertama, bermuara kepada antusiasme kaum Muslim dalam menyambut kedatangan bulan suci ini. Di mana setiap kedatangannya, akan memantik keyakinan sekaligus harapan dan kegembiraan. Prof meringkasnya dengan istilah 5F: Faith (keyakinan), Food (makanan), Fashion (pakaian), Franternity (persaudaraan), dan Fun (kesenangan).

Bagaimana tidak, aneka bonus pahala dan mega bonus kemuliaan lainnya begitu dirindukan oleh kaum Muslim di bulan tersebut. Di mana pola dan intensitas beribadah seketika berubah. Kuantitas dan frekuensi membaca Alquran mengalami eskalasi tajam dari sebelum-sebelumnya. Demikian juga, ragam dan gaya busana syar’i sontak bermunculan dan trendi di masyarakat. Bahkan jutifikasi bagi pengendara motor untuk tidak mengenakan helm lagi saat berkendara. Sebab, kopiah telah menggantikan fungsional helm dalam melindungi kepala jika terjadi kecelakaan. Yang lebih menarik, pola konsumsi masyarakat juga berubah drastis. Di mana idealnya, tingkat konsumsi dan ragam kuliner seharusnya bisa lebih menurun karena masyarakat Muslim sedang menjalankan ibadah puasa. Namun, konsumtivisme kuliner malah tumpah-ruah dalam menawarkan berbagai jajanan buka puasa.
Tapi, sebagai bentuk syiar di awal Ramadhan ini, pribadi ingin menghadirkan beberapa tajuk tulisan yang menarik di buku ini.
1. Ramadhan Momen Tirakat
Tema ini telah diperluas oleh penulis pada unggahannya di tanggal 30 Maret yang lalu. Secara gari besar, penulis ingin menyampaikan sebuah pesan Nabi Muhammad SAW ketika memasuki penggalan sepuluh hari terakhir. Rasulullah SAW dikabarkan selalu melakoni iktikaf selama periode tersebut dan menganjurkan kepada kaum Muslim untuk mengindahkannya.
Iktikaf berarti berdiam seklusif di dalam masjid, menapaki pelbagai ritus syariah demi mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Ketika mencermati segala bentuk ritualnya, Ramadhan dapat dikatakan sebagai bulan kontemplasi. Kontemplasi adalah laku tirakat atau meditasi di mana seseorang berusaha melampaui kemelut rasional dan citra mental demi merasakan pengalaman langsung dengan Allah SWT.
Namun, sebelum mengelana dalam ruang kontemplasi, seseorang terlebih dahulu melakukan pertobatan. Demikian juga, Syekh Abdul Halim Mahmud dalam prolog bukunya “Syahr Ramadhan” mengamini bahwa taubat menjadi sebuah jalan meraup ketaufikan dalam melakukan segala perbuatan haq yang telah Allah SWT berikan kepada utusan-Nya, termasuk ibadah puasa. Karena doa orang berdosa hanya akan bergema di ruang hampa.
2. Merencanakan Lailatulkadar
Dalam tulisan ini, Prof mengatakan bahwa memang yang paling otoritatif dalam menjelaskan peristiwa agung ini adalah mereka yang sudah pernah merasakan kehadirannya secara personal. Namun, tentu saja sulit mengetahui apakah sejauh ini ulasan yang begitu melimpah tentang itu memang berdasarkan pengalaman pribadi masing-masing pengulasnya? Atau, ulasan-ulasan itu sekedar interpretasi berdasarkan teks-teks agama yang ada?
Dalam penjelasan klasiknya, orang-orang yang terjaga di momen lailatulkadar akan memperoleh anugerah dan pahala yang melimpah. Perihal dapat-tidaknya seseorang. Ada yang percaya bahwa lailatulkadar akan mendatangi seseorang secara acak atau kebetulan. Akan tetapi, penulis sendiri lebih cenderung kepada pandangan sebaliknya. Bahwa untuk merengkuh momen tersebut, seseorang memerlukan pengondisian diri dalam jangka panjang, termasuk bertaubat.
Sehingga, dengan bangunan perspektif seperti itu, kedatangan atau kehadiran lailatulkadar bukan lagi harus ditunggu-tunggu. Akan tetapi, kehadirannya dapat dijemput atau direkayasa dengan satu upaya, yaitu dengan perencanaan atau persiapan yang matang. Dengan itu, keagungan dan keindahan Tuhan akan membuat manusia candu dalam mengupayakan penyingkapan tirai yang menghalangi pandangannya untuk menyaksikan dunia metafisik atau alam gaib, di mana Tuhan dipercaya bertakhta.
3. Taat Ritual, Tuna Sosial
Dalam memulai pembicaraan ini, pribadi ingin bertolak pada pernyataan seorang cendekiawan Muslim Indonesia terkemuka, Nurcholish Madjid. Cendekiawan yang akrab disapa Cak Nur tersebut mengatakan bahwa, “umat Islam Indonesia masih terperangkap dalam kesalehan simbolik. Persepsi yang mereka anut adalah persepsi formal. Akibatnya, yang lebih banyak terlihat adalah kesalehan formal yang sarat simbol.”
Artinya, cukup aneh jika ada yang merasa sebagai Muslim paripurna, tapi hanya karena sudah berulang kali berhaji dan berumrah. Tidak jarang pula, orang-orang yang tampak tekun salat dan puasa sunnah, kemana-mana mengenakan busana yang diklaim sebagai interpretasi dan refleksitas syariat Islam, tapi orang-orang di sekitarnya tidak pernah tenang dan aman akan kehadirannya.
Sehingga, salat, haji, puasa, dan berbagai ritus formal lainnya memang sarat simbolisme ritualistik yang berorientasi vertikal-ilahiah. Namun, di balik ikon-ikon tersebut, terdapat pesan-pesan moral dan sosial Islam yang seharusnya bisa diteguk setiap Muslim yang menunaikan ibadah itu secara konsisten. Dengan demikian, anggapan terhadap ritual yang hanya sebatas formal-simbolik saja, dapat diperkaya lagi. Di mana perlu kita ketahui bahwa, hal-hal simbolik itu hanyalah bagian terluarnya saja. Sehingga bagian terdalam sebuah aktivitas keagamaan dapat kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari berupa kesalahan sosial atau akhlak yang mulia. Karena “akhlak mulia” adalah muara dari semua ibadah untuk hamba yang sedang menjalankannya.
Mahakarya dari Prof. Wahyuddin Halim, salah satu figur idola jebolan Temple University of USA ini cocok menemani Ramadhan kita. Tulisan-tulisan yang kaya akan nilai etnografi, membuat kita “mengiya-iyakan” di sepanjang premis yang dibangun dalam karya-karyanya. Bahwa, ada banyak hal menarik dan dekat dengan kita di bulan Ramadhan ini, tapi terkadang dari perhatian kita. “Taat Ritual, Tuna Sosial” dapat menjadi navigator dalam menyelami kedalaman berkah yang dierami oleh bulan suci ini. Dengan pengamatan etnografi-reflektif nan kritis ala Pak Prof, akan membawa kita sebagai pembaca melihat pernak-pernik Ramadhan dan lika-likunya dalam sebuah komunitas masyarakat di Indonesia.
Selamat membaca!







